Teror Jatmiko kini tidak lagi sudi bersembunyi di balik kegelapan bilik dapur yang lembap atau menyelinap secara pengecut di sela-sela aroma jamur dinding rumah Lebron. Malam Jumat Kliwon yang selama ini dinubuatkan oleh silsilah ramalan para arwah akhirnya benar-benar meluruh turun menelan sisa-sisa kewarasan sosiologis di sudut kompleks perumahan Bintaro Tua, melunakkan sekat pembatas dimensi secara radikal antara dunia manusia hidup yang bernapas dan dunia kematian yang senyap. Maryana Basundari terpaksa menyaksikan dengan sepasang mata kepalanya sendiri bagaimana seluruh bagian interior dari tempat tinggalnya yang semula hampa mendadak bertransformasi secara masif menjelma menjadi sebuah labirin altar mengerikan yang didominasi warna merah-gelap sewarna dengan hamparan darah kental. Hawa di dalam ruangan itu mendadak menguap, digantikan oleh radiasi ektoplasma pekat yang meremukkan seluruh logika dewasanya saat sepotong lukisan purba berukuran raksasa yang menggambarkan seekor ular sanca hitam sedang mengunyah sebuah apel merah ranum bermanifestasi nyata, tumbuh membesar memenuhi permukaan dinding ruang keluarga seolah-olah dipahat langsung oleh tangan iblis dari takhta neraka. Di bawah bayangan gambar purba yang angkuh itu, ribuan pendar lilin putih bermanifestasi secara instan, menyembur keluar dari udara kosong dan menyala secara mistis tanpa ada satu pun tangan manusia hidup yang memantiknya, memuntahkan lidah api kuning kemerahan yang menari-nari liar mengikuti irama musik klasik mendayu ganjil yang mendengung rendah dari balik fondasi ubin yang retak-retak. Seluruh struktur bangunan fiksik yang dibelinya dengan harga miring dari agen properti lokal itu kini tidak lagi menyisakan ruang bagi kedamaian; udara berubah menjadi sedingin es kutub yang menusuk langsung ke dalam sumsum tulang, sementara di balik kepulan asap dupa yang memualkan, siluet-siluet arwah asing bertubuh cacat, berwajah gosong, hingga yang bermutasi menyerupai rupa binatang rimba seliar monster purba mulai berdatangan memadati selasar ruang tamu untuk merayakan kesakralan sakramen Jumat Hitam yang jahanam, mengunci Maryana di dalam pusaran ketakutan absolut yang melumpuhkan seluruh persendian tubuh tegapnya. Pendar lampu neon yang biasanya menerangi ruang keluarga berkedip keras sebelum akhirnya mati total, meninggalkan Maryana dalam kepungan cahaya lilin gaib yang mengisap seluruh pasokan oksigen hingga dadanya terasa teramat sesak. Ia mencoba menggerakkan sepasang kakinya yang lemas untuk berlari menuju pintu depan, namun seluruh tubuhnya seolah terkunci oleh medan magnet supranatural yang merambat dari ubin lantai yang bergetar. Getaran itu kian menghebat, bersahut-sahutan dengan gaung suara-suara tanpa bentuk yang melontarkan pidato pendek dan kidung pemujaan kuno dalam bahasa yang tidak dipahami oleh nalar manusianya, mengubah rumah yang seharusnya menjadi muara ketenangan bagi keluarga kecilnya menjadi sebuah arena upacara jahanam yang siap memamahnya hidup-hidup. Dari celah ventilasi atas, kabut ektoplasma kelabu mengalir deras bagai air bah, membentuk pusaran angin puyuh lokal di tengah ruangan yang merobek kain-kain putih penutup perabot lama, memamerkan tumpukan debu tebal yang beterbangan kelilipan merusak indra penglihatannya. Maryana terbatuk-batuk hebat di balik kepungan bau bangkai dan jamur akut, menyadari dengan kepedihan yang teramat luar biasa bahwasanya pertahanan rasionalitasnya yang selama ini ia agungkan di bawah gemerlap kelab malam Jakarta telah runtuh tak tersisa, ditumbangkan oleh eksistensi kegelapan murni yang bersarang kukuh di bawah atap huniannya sendiri.
Aku benar-benar menyadari kelalaianku yang teramat jahanam karena selama ini menolak mengenal riwayat kelam di balik dinding rumah ini, membiarkan egoku sendiri acuh tak mau ambil pusing pada gosip pos ronda yang kuanggap bualan takhayul kosong. Sebuah kesalahan fatal yang kini berbalik mencekik leherku sendiri di Jumat malam ini. Ternyata aku baru tahu dengan cara yang paling mengerikan bahwasanya bangunan telantar ini belum benar-benar ditinggalkan oleh para pemilik dari generasi sebelumnya; mereka semua, ratusan koloni arwah peninggalan masa lalu yang berbau kematian, ternyata berkumpul bersamaku dan anakku di bawah satu atap yang sama. Hak milikku atas privasi hunian ini seketika merasa dirampas paksa oleh dimensi gaib yang tidak kupahami nalar fana. Aku merasa teramat teledor, bodoh, dan bebal karena telah membiarkan semua malapetaka psikologis ini terjadi menjajah masa depan Binar, meruntuhkan seluruh dogma rasionalitas yang selama ini kubanggakan di bawah pendar kelab malam Jakarta. Bagaimana mungkin aku bisa sekuta ini menutup mata dari tanda-tanda kejanggalan yang sudah dikeluhkan Binar sejak bulan pertama kami menapakkan kaki di pekarangan berumput liar ini. Aku telah dibutakan oleh ambisi memburu pundi-pundi rupiah, sibuk mengurung diri di dalam kamar tidur demi mengelola situs privat berbayar dan mengabaikan sel kanker kesepian yang menggerogoti sumsum tulang anak tunggalku. Ketulusan Neil Bayu yang datang mengorbankan waktu hidupnya untuk menjadi benteng pelindung bagi Binar justru kubalas dengan hantaman tamparan keras dan laporan palsu di kantor polisi Polsek Bintaro Tua. Aku telah menjebloskan satu-satunya mesias manusia hidup yang sudi memasang badan menghadapi amukan Jatmiko, memenjarakannya dalam jeruji besi atas dasar prasangka asusila yang picik di dalam kepalaku. Dan sekarang, ketika badai kutukan ini meledak mementaskan keriuhan pesta poranya di ruang tengah, aku tidak lagi memiliki perisai kuno ataupun lilitan rosario pendeta suci untuk menangkal cakar berdarah sang iblis, tertahan dalam ketidakberdayaan yang teramat getir meratapi air susu Neil yang telah kubalas dengan air tuba jahanam.
Di tengah kepungan kegilaan dimensi yang kian merayap tak terkendali membelah hawa sedingin es kutub itu, Maryana didera kepanikan massal yang melumpuhkan sisa akal sehatnya; ia berputar-putar di tempat sembari menjerit-jerit histeris membelah kepulan asap dupa yang memualkan. Tubuhnya yang gemetaran hebat refleks merangsek maju menubruk kursi santai cokelat tua, sepasang matanya membelalak nanar menatap pintu kamar atas yang tertutup rapat di ujung tangga kayu yang lapuk.
Binar!
Binar!
Pekik Maryana dengan tenggorokan yang terasa mau pecah, menyadari bahwa ia telah mengunci anak itu di dalam kamar, mengurungnya tanpa pertahanan apa pun di tengah pusaran kegelapan yang siap melumat habis sisa hidup mereka tanpa sisa. Suaranya melengking parau memenuhi selasar, bersahut-sahutan dengan tawa membahana ratusan hantu asing yang kian riuh memadati ruang keluarga, sementara bayangan sepasang tanduk besar milik Jatmiko mulai merayap naik meniti dinding altar merah-gelap bersiap mengakhiri riwayat mereka malam itu.