Didorong oleh gelombang kepanikan yang teramat dahsyat akibat kemunculan mendadak ratusan arwah asing bertubuh cacat, berwajah gosong, dan bermutasi mengerikan memenuhi seisi ruang tengah untuk merayakan ritual sakral pesta Jumat Hitam, Maryana Basundari tidak lagi memiliki sisa ego kewanitaan untuk sekadar bertahan menegakkan kepalanya di bawah naungan atap rumah peninggalan keluarga Lebron. Nalar dewasanya yang semula bebal menyangkal silsilah takhayul lelembut kini telah luluh lantak sepenuhnya dikuliti oleh rasa ngeri yang luar biasa, memaksa insting keibuannya bergerak sporadis menyambar pergelangan tangan kurus Binar yang gemetaran hebat di dekat tangga kayu. Maryana memilih untuk kabur, menolak mentah-mentah untuk menyerahkan sisa napas dan jiwa anak tunggalnya menjadi tumbal pemuas amarah iblis Jatmiko yang bayangan tanduk besarnya mulai merayap angkuh meniti dinding altar merah-gelap. Sembari mencengkeram erat senter di tangannya, wanita itu nekat melesatkan tubuhnya berlari kencang membelah kepungan pusaran angin puyuh jahanam yang berputar di tengah ruang keluarga, sebuah badai pekat yang merobek-robek kain penutup perabot lama dan menerbangkan tumpukan abu hangus berbau bangkai hingga membikin indra penglihatannya kelilipan dan perih luar biasa.
Langkah kaki Maryana yang dibalut sepasang sepatu kets tipis terasa teramat kikuk, terseok-seok menabrak sudut meja kayu dan tumpukan lilin-lilin putih yang menyala mistis tanpa ada manusia hidup yang memantik, memicu lolongan tawa membahana dari ratusan entitas tak kasat mata yang seolah sengaja mempermainkan laku geraknya yang ringkih. Udara di dalam selasar depan terasa kian mengental, senyap, dan sedingin es kutub yang menusuk langsung menghujam hingga ke sumsum tulang, menyedot pasokan oksigen dari paru-parunya hingga dadanya didera rasa sesak yang akut layaknya sedang tenggelam di palung laut yang sunyi. Namun, ketakutan akan rupa taring besar Jatmiko yang sewaktu-waktu bisa meluncur dari kegelapan bilik dapur memicu sisa-sisa energi adrenalin di dalam nadinya untuk terus memompa sepasang kaki lemasnya merangsek maju menembus koridor depan. Dengan sisa tenaga yang luluh lantak, Maryana menubrukkan bahu sempitnya ke arah pintu depan bangunan yang selotnya telah jeblok rusak akibat hantaman kekuatan gaib, meledakkan daun pintu kayu itu hingga terhempas menganga lebar melempar raga mereka berdua keluar melompati batas teras halaman yang berumput liar.
Lanskap jalanan kompleks perumahan Bintaro Tua malam itu membentang remang, sunyi, dan mati di bawah pendar rembulan yang membulat cemerlang layaknya sepotong kue donat madu yang beku. Tidak ada satu pun batang hidung manusia yang tampak hilir mudik membelah gang mati tersebut, bahkan barisan mobil yang terparkir sentosa di bawah pendar redup lampu merkuri jalanan kian mengukuhkan atmosfer yang terisolasi dari keriuhan kota Jakarta. Maryana menarik paksa tubuh ringkih Binar yang terus-menerus terbatuk parau, menyeret langkah bocah itu untuk nekat menyeberangi aspal jalanan yang dingin gulita menuju satu-satunya muara keselamatan yang tersisa di seberang gang: rumah pribadi Neil Bayu. Batin Maryana merayap liar dipenuhi rasa sesal yang teramat jahanam dan menggerogoti harga dirinya sepanjang pelarian singkat yang terasa berjarak jutaan tahun cahaya itu, meratapi betapa bebal dan bodohnya tindakannya tempo hari yang telah tega menghantam pipi tirus Neil dengan tamparan keras serta melemparkan tuduhan asusila palsu di hadapan penyidik Polsek. Kini, ketika dunianya runtuh tak bersisa dijajah oleh marak dendam Jatmiko, ia justru harus merangkak pasrah mengemis perlindungan kepada pria agnostik tegap yang reputasi mengajarnya telah ia hancurkan di hadapan kepala sekolah botak Pak Poe. Namun, begitu sepasang telapak kakinya yang gemetar menapak di batas aspal persis di depan gerbang rumah Neil, langkah Maryana mendadak terkunci mati oleh sebongkah keraguan yang teramat pekat. Rasa malu yang meraksasa seketika bergolak di dalam dadanya, menciptakan dinding pembatas tak kasat mata yang jauh lebih tebal ketimbang sekat kaca ruang tahanan Polsek. Tangannya yang dingin terangkat menggantung di udara, hendak membuka selot pagar besi, namun urat sarafnya mendadak lumpuh didera rasa canggung yang luar biasa gila. Bagaimana mungkin wajah yang telanjur luntur riasannya ini sanggup menatap kembali sepasang mata Neil setelah segala kezaliman yang ia lemparkan tanpa tahu malu tempo hari. Maryana hanya bisa terdiam membeku seperti patung batu yang tak bernyawa tepat di depan gerbang kayu rumah Neil, membiarkan tubuhnya diterpa angin malam yang bertiup kencang menerbangkan sisa-sisa daun kering yang menguning di pekarangan. Ia terpaku diam tanpa kata, terjebak di dalam pusaran konflik batin yang mengerikan antara harga dirinya sebagai seorang ibu tunggal yang angkuh dan ketakutan akan nasib Binar.