Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #28

BAB XXVIII

Langkah kaki Neil kembali menapak di atas aspal jalanan kompleks Bintaro Tua yang remang, sunyi, dan terasa mati di bawah pendar rembulan. Membawa sebilah salib kayu kuno yang permukaannya mulai mengelupas dan seuntai rosario pendeta suci yang melingkar erat di sela jemari tangannya, Neil Bayu memimpin langkah kaki Maryana Basundari untuk menyeberangi jalanan gang mati yang terasa berjarak jutaan tahun cahaya dari batas kewajaran. Ketakutan hukum, ancaman pembatalan status penangguhan penahanan dari pihak berwenang Polsek, ataupun bayang-bayang sel tahanan yang dingin, sepenuhnya telah Neil enyahkan dari pikirannya demi sebuah kewajiban moral yang lebih tinggi. Di sampingnya, Maryana berjalan dengan tubuh yang gemetaran, blus putihnya tampak berguncang seirama dengan degup jantung yang bertalu-talu panik. Wanita itu menatap lurus ke arah rumah peninggalan keluarga Lebron dengan sepasang mata yang dipenuhi kengerian. Anak tunggalnya, Binar Basundari, masih tertinggal di dalam rahim rumah terkutuk itu, terkunci sendirian di tengah amukan badai gaib tanpa ada satu pun perlindungan.

Angin malam bertiup kencang dari sudut gang kompleks, menerbangkan sisa-sisa daun kering yang menguning di pekarangan rumah pribadi Neil yang mulai mereka tinggalkan, seolah-olah membawa desis peringatan ganjil agar keduanya mengurungkan niat gila ini. Namun, batin Neil telah memahat sebuah keputusan yang tak dapat ditawar lagi; tidak ada lagi jalur untuk mundur kembali ke dalam kenyamanan yang hampa, karena satu-satunya jalan keluar untuk menyembuhkan kesepian dan trauma yang bersarang di bawah atap kompleks ini adalah dengan maju menantang langsung dendam Jatmiko dan menjemput Binar. Nalar agnostik Neil yang biasanya kaku menolak takhayul lelembut kini telah bermutasi menjadi insting pelindung yang teramat keras, merobek-robek dogma hukum manusia demi menyelamatkan sesosok bocah dua belas tahun yang telah ia anggap layaknya adik kandungnya sendiri. Batin Neil terus berputar pada satu kepastian yang mutlak; persetan dengan ancaman penjara, persetan dengan kontrak hukum bersyarat yang mengunci langkah kakinya, karena malam ini ia adalah satu-satunya perisai terakhir yang bersedia memasang badan bagi Binar yang terancam maut.

Begitu sepasang kaki mereka melompati batas selasar teras rumah peninggalan keluarga Lebron yang dipenuhi rumput liar berdebu, sepotong hawa ektoplasma yang teramat pekat, padat, dan sedingin es kutub langsung merangsek menyergap indra penciuman mereka dengan muntahan aroma hangus daging busuk yang teramat memualkan. Bau jahanam itu menguar hebat dari celah pintu depan yang selotnya telah jeblok hancur, meremukkan seluruh pertahanan dan memaksa lambung Neil bergolak didera rasa mual yang sangat. Ruang keluarga di dalam interior bangunan tua itu kini telah bermutasi total, menjelma menjadi sebuah medan perang yang teramat riuh, bising, dan berada di luar batas kewajaran. Ratusan hantu tetangga seberang kompleks yang biasanya memilih bergerak diam-diam di dalam kegelapan dinding atau mengunci diri dalam kesunyian individualis khas masyarakat urban, malam ini tampak terbang kocar-kacir membelah udara kosong. Mereka menjerit-jerit histeris dengan suara parau yang melengking sumbang, meletupkan kepanikan massal yang ganjil sembari mati-matian mencoba melarikan diri dari amukan destruktif iblis merah Jatmiko yang kekuatannya kian meraksasa karena disuplai langsung oleh takhta penguasa neraka.

Lihat selengkapnya