Pemandangan di depan ujung tangga utama rumah peninggalan keluarga Lebron malam ini menjelma menjadi sebuah adegan pembantaian spiritual yang teramat mengerikan, meremukkan sisa-sisa batasan nalar manusia hidup yang dibawa oleh Neil dalam pusat kesadarannya. Tuan dan Nyonya Adler, sepasang arwah ekspatriat yang biasanya mempertahankan keanggunan era kolonial mereka di sudut-sudut sunyi kompleks, kini dipaksa mengeluarkan seluruh cadangan energi gaib yang mereka miliki demi sebuah keputusasaan. Dalam kepungan kabut yang kian memekat sewarna jelaga, Neil menyaksikan rupa halus kedua pasutri itu mengalami mutasi ekstrem yang mengerikan; kulit pucat mereka robek, memuntahkan untaian bulu hitam legam yang kasar, lalu memutasi rupa mereka menjadi sepasang beruang liar raksasa dengan moncong yang meneteskan air liur berwarna keperakan. Wujud asli mereka yang semula dipenuhi trauma kini bergeser menjadi benteng pertahanan terakhir, menggeram dahsyat hingga getarannya meretakkan ubin lantai teras, demi menahan terjangan cakar berdarah Jatmiko tepat di depan akses tangga menuju lantai dua. Namun, takdir malam ini terlampau kejam bagi para arwah pelindung yang mencoba berbuat baik di tengah kutukan Bintaro Tua. Kekuatan sang iblis merah, yang disuplai secara instan tanpa batas langsung dari takhta terdalam penguasa neraka, terlampau perkasa untuk dibendung oleh wujud energi lokal yang rapuh. Jatmiko menatap sepasang beruang astral itu dengan sorot mata yang menyala sepekat belerang cair, mengeluarkan raungan parau yang merobek seluruh gendang telinga milik Maryana di belakang punggung Neil. Hanya dengan satu kepakan sayap membran yang menjijikkan—sebuah kepakan tunggal yang memicu badai angin puyuh lokal berbau belerang dan daging gosong—Jatmiko menghempaskan tubuh pasutri Adler dengan daya hancur yang mengerikan. Tubuh beruang raksasa itu terpelanting hebat menubruk dinding di sudut ruang keluarga, memicu dentuman keras yang merontokkan seluruh sisa eternit rumah. Neil menahan napas saat menyaksikan eksistensi arwah baik hati itu perlahan-lahan meredup, retak layaknya porselen murahan, dan sekarat dalam kubangan pendar energi kelabu yang kian menipis seiring hilangnya kesadaran individualitas mereka.
Batin Neil bergolak didera rasa bersalah yang teramat pekat; ia tahu betul bahwa keputusannya membawa Maryana kembali ke rumah ini telah menyeret seluruh ekosistem astral kompleks ke dalam jurang pemusnahan massal. Kematian spiritual pasutri Adler bukan sekadar hilangnya wujud gaib, melainkan runtuhnya potongan sejarah kemanusiaan yang mencoba bertahan di tengah kebiadaban Jatmiko. Di tengah keputusasaan yang mulai merayap naik menembus sol sepatunya, Mbah Sandy tidak tinggal diam melihat sekutunya tumbang begitu saja dalam hitungan detik. Pria tua berpenampilan Nosferatu dengan jubah hitam yang compang-camping itu melayang gesit membelah sisa-sisa angin badai, memancarkan aura magis yang berakar dari tanah Jawa berabad-abad silam. Dengan raungan mantra yang tersumbat di tenggorokan keringnya, Mbah Sandy memperbesar sepasang telapak tangannya hingga berpuluh-puluh kali lipat dari ukurannya, mengubah jemari kurusnya menjadi cakar raksasa sewarna batu legam demi mengunci pergerakan leher Jatmiko tepat di puncak tangga kayu yang lapuk.
Di samping suaminya, Nyai Sandy bergerak tak kalah brutal dalam kepungan aura merah jahanam itu. Wanita tua berwajah keriput itu terbang memutar di udara, memukulkan gagang sapu lidi sihirnya berulang kali dengan kecepatan eksponensial ke arah sepasang mata merah menyala milik sang iblis. Setiap hantaman gagang sapu itu memicu letupan energi keperakan, hingga akhirnya memercikkan lendir hitam kental yang memualkan dari kelopak mata Jatmiko, menciptakan jeritan kemarahan yang mengguncang seluruh fondasi bangunan tua keluarga Lebron. Neil memanfaatkan momen pertempuran udara yang teramat bising itu untuk bergerak cepat; ia menarik lengan Maryana dengan sentakan keras, mengisyaratkan wanita itu untuk merunduk serendah mungkin di atas lantai yang bergetar. Sambil merangkak di antara ceceran lendir hitam dan serpihan kayu, Neil menyelinap naik meniti anak tangga, membelah kepulan kabut kelabu menuju ruang loteng atas tempat Binar mengurung diri dari kejaran maut.