Udara di dalam ruang loteng atas terasa teramat pengap, lembap, dan berselimut debu tebal yang hampir setebal es krim cokelat yang dibiarkan meleleh di bawah terik matahari. Setiap kali Neil menarik napas, paru-parunya seperti dipaksa menerima partikel-partikel masa lalu yang berbau tanah kuburan, minyak senapan yang tengik, dan sisa-sisa kelembapan kayu yang mulai melapuk dimakan usia puluhan tahun. Ruangan sempit di bawah atap sirap ini seperti sebuah kapsul waktu terlarang yang sengaja dipotong dari peta modernitas Kompleks Bintaro Tua, sebuah tempat di mana waktu berhenti berputar tepat setelah tragedi berdarah Keluarga Carter terjadi. Di bawah pendar remang dari celah-celah genting yang bocor, bayangan struktur atap yang silang-menyilang tampak seperti tulang belulang raksasa binatang purba yang sedang mengurung mereka di dalam perut bumi. Tidak ada suara dari dunia luar yang mampu menembus ketebalan dinding loteng ini, kecuali gema pertempuran di lantai bawah yang sesekali mengirimkan getaran hebat hingga menjatuhkan buliran debu halus ke atas rambut Neil.
Didampingi oleh Binar yang menggandeng erat lengan kekar Neil, sepasang manusia itu melangkah terseok-seok menembus labirin kegelapan yang pekat. Jari-jemari kurus bocah dua belas tahun itu mencengkeram kain flanel merah marun Neil dengan kekuatan yang luar biasa, seolah-olah lengannya adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan tubuh ringkihnya dengan dunia nyata. Neil bisa merasakan detak nadi Binar yang melompat-lompat panik di balik kulit pergelangan tangannya yang sedingin es batu, sebuah wujud trauma akut akibat terlalu lama dikurung dalam ruang isolasi. Di belakang mereka, Maryana berjaga di dekat ambang pintu tangga lipat dengan tubuh yang masih gemetaran hebat, sepasang matanya liar menatap ke arah kegelapan tangga seolah-olah mengantisipasi kemunculan Jatmiko yang sewaktu-waktu bisa merobek lantai kayu di bawah kaki mereka. Neil berputar cepat, mengesampingkan rasa lelah yang mulai menggerogoti otot-otot kakinya demi menyusun kembali ingatan tentang tata letak rumah-rumah kolonial pra-kemerdekaan yang pernah ia pelajari lewat cetak biru arsip tata kota.
Mari kita bongkar tumpukan ini sekarang juga sebelum energi Mbah Sandy benar-benar habis di bawah sana, ucap Neil dengan karakter suaranya yang ditekan serendah mungkin agar tidak memicu resonansi gelombang suara di sekitar mereka. Dengan tangan kirinya yang masih melilitkan tasbih rosario pendeta suci, Neil mulai menggeser sebuah lemari pakaian tua berbahan kayu jati yang pintunya sudah lepas sebelah. Di dalam lemari itu, tumpukan kain kusam, baju-baju renda era Victoria yang telah membusuk, dan tumpukan dokumen keluarga yang pinggirannya telah menghitam karena jamur, berserakan memicu bau apak yang menyengat indra penciuman Neil hingga membuat lambungnya kembali bergolak didera rasa mual yang parah. Nalar Neil kini sepenuhnya lumpuh, digantikan oleh pemahaman baru yang mengerikan bahwa setiap benda mati di dalam rumah keluarga Lebron ini menyimpan memori penderitaan yang bertindak sebagai bahan bakar bagi eksistensi iblis merah Jatmiko. Jika ia gagal menemukan penangkal dari kutukan ini dalam hitungan menit, maka takdir mereka bertiga akan berakhir mengenaskan di atas lantai loteng ini sebagai tumbal baru bagi lingkaran setan Bintaro.