Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #31

BAB XXXI

Brak! Lantai kayu loteng mendadak jeblok runtuh dengan dentuman yang teramat dahsyat, memuntahkan serpihan papan yang telah membusuk bersama kepulan debu tebal sewarna jelaga kotor. Struktur bangunan tua peninggalan Keluarga Lebron itu mengerang hebat, mengeluarkan bunyi derit patahan besi penyangga yang seolah-olah menandakan bahwa fondasi rumah terkutuk ini tidak lagi mampu menahan beratnya dosa masa lalu yang berwujud malam ini. Jatmiko berhasil melepaskan diri dari kuncian mistis sepasang telapak tangan raksasa Mbah Sandy di lantai bawah, merangsek maju menembus langit-langit loteng dengan kecepatan yang berada di luar batas nalar singkat manusia hidup. Sosoknya yang meraksasa sewarna hamparan darah kental kini tegak berdiri di hadapan mereka, memancarkan hawa gaib yang begitu pekat dan sedingin es kutub hingga membuat sirkulasi udara di dalam ruang sempit itu mendadak lenyap. Raungan suara paraunya mengguncang setiap jengkal kesadaran Neil, sebuah suara rendah yang tidak hanya meremukkan gendang telinga, melainkan juga menguliti sisa-sisa keberanian yang coba ia bangun sejak melangkahi selasar teras kompleks Bintaro Tua.

Sepasang sayap membran raksasanya yang menjijikkan berkepak anggun namun mematikan, mengibaskan gelombang energi hitam pekat yang melesat membelah udara kosong layaknya barisan pisau tak kasat mata. Neil tidak memiliki waktu untuk menghindar ketika hantaman radiasi gaib itu menghantam dadanya dengan telak, memicu sensasi hantaman godam besi yang melemparkan tubuh tegapnya ke udara. tubuh Neil melayang beberapa jengkal sebelum akhirnya terkapar menubruk tiang kayu penyangga utama loteng dengan bunyi deburan tulang yang bergemeletuk nyeri. Kepalanya menghantam permukaan kayu yang kasar, memicu kilatan cahaya putih di dalam pelupuk matanya bersamaan dengan rasa mual yang teramat sangat akibat lambungnya yang bergolak hebat. Salib kayu kuno peninggalan pendeta suci yang sejak tadi digenggamnya erat-erat terlepas dari lilitan jemarinya, meluncur deras menembus kegelapan dan terlempar jauh ke dalam sudut ruangan yang dipenuhi jaring laba-laba liar. Kehilangan relikui suci itu seketika menyisakan mereka berdua, Neil dan tubuh ringkih Binar Basundari, tanpa benteng pertahanan spiritual sedikit pun di hadapan sang iblis merah yang kini melangkah maju dengan sepasang mata menyala sepekat belerang cair.

Pikiran di dalam kepala Neil mendadak bising oleh kalkulasi kegagalan yang mengerikan, sebuah keputusasaan sosiologis yang mengindikasikan bahwa seluruh pengorbanan koloni arwah tetangga di lantai bawah telah berakhir sia-sia. Pria itu mencoba menegakkan punggungnya yang terasa mau patah, merasakan aliran darah segar mulai merayap turun dari pelipisnya, membasahi kain flanel merah marunnya yang kini telah koyak di bagian bahu. Nalar Neil yang biasanya kaku dan menolak keberadaan takhayul lelembut kini telah bermutasi sepenuhnya menjadi insting pelindung yang teramat keras, memaksa otot-ototnya yang melemah untuk kembali memasang badan di depan Binar. Ia menatap Jatmiko yang melangkah lambat, menikmati setiap detik ketakutan yang menguar dari tubuh Maryana yang merangkak mundur di sudut ruangan dengan tangisan yang tersumbat di kerongkongannya. Arwah mantan pengkhotbah mimbar yang rusak itu tampak kian perkasa, otot-otot spiritualnya membesar seiring melonggarnya dinding pembatas antar-dimensi di Jumat malam jahanam ini, menjadikan ruang loteng ini sebagai altar pribadinya untuk menuntaskan dendam yang belum usai.

Lihat selengkapnya