Aku melihat Neil terkapar tidak berdaya di atas lantai kayu yang retak-retak. Dia kelihatan kesakitan sekali. Melihat badannya yang tegap itu lemas, tiba-tiba ada rasa berani yang muncul di dalam dadaku. Rasa berani yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa takutku sebagai anak umur dua belas tahun mendadak hilang, seperti terbang keluar dari kepalaku. Di bawah cahaya bulan yang masuk dari langit-langit hancur, aku melepaskan diri dari pelukan ibu yang cuma bisa menangis pasrah di pojok ruangan yang pengap ini.
Aku langsung merangkak cepat di atas lantai loteng yang dingin dan penuh lendir hitam yang menjijikkan. Aku tidak peduli lagi dengan serpihan kayu tajam atau paku berkarat yang menggores lutut kecilku. Mataku tidak lagi kosong atau lemas. Sekarang, aku benar-benar yakin kalau aku harus menyelamatkan Neil, orang yang sudah melindungiku sejak tadi.
Dengan kedua tangan kecilku yang bergetar hebat karena angin dingin dari kepakan sayap Jatmiko, aku langsung mengambil pistol di dalam kotak beludru merah yang berjamur itu. Pistol besi peninggalan zaman dulu itu rasanya berat sekali, sampai pergelangan tanganku yang kurus rasanya mau patah. Tapi anehnya, seperti ada kekuatan misterius yang mengalir ke sela-sela jariku. Aku mengangkat kedua lenganku yang gemetaran ke udara. Aku mengarahkan moncong pistol berkarat yang penuh darah kering itu tepat ke dada si iblis merah.