Kembalikan senjata jahanam itu, Bocah! raung Jatmiko dengan volume suara parau yang bergaung teramat mengerikan, memicu getaran rendah yang seketika menggetarkan seluruh isi ruang loteng hingga membuat debu-debu tebal berhamburan liar menembus pendar rembulan. Raungan itu bukan sekadar gelombang suara singkat, melainkan sebuah muntahan amarah dari takhta penguasa neraka yang sanggup merobek-robek lapisan kesadaran paling dalam milik manusia hidup yang berani mengusik relikui terkutuknya. Sebelum jari-jari mungil Binar Basundari sempat menarik pelatuk besi dari pistol revolver kuno peninggalan Keluarga Carter, sang iblis merah mengibaskan sepasang cakar berdarahnya ke udara kosong dengan sentakan sejajar yang teramat brutal. Kibasan energi hitam pekat itu menjelma menjadi sulur-sulur cambuk yang melilit erat, lalu menyeret paksa tubuh Binar dan Neil turun menembus lubang lantai loteng yang telah jeblok runtuh sebelumnya. Tubuh mereka berdua melayang deras di udara, terlempar melintasi koridor lantai dua yang lapuk sebelum akhirnya dihempaskan dengan daya hancur yang mutlak tepat di atas altar bintang segi lima berwarna merah-gelap sewarna hamparan darah kental yang kini mengunci ruang tengah bangunan tua itu.
Neil merasakan punggungnya menghantam ubin lantai yang bergetar hebat, memicu rasa nyeri yang luar biasa hingga seluruh persendian tulang belakangnya seolah-olah bergeser dari batasan kewajaran. Di sampingnya, Binar terkapar dengan posisi telungkup, baju tidurnya yang kekecilan kini telah robek dan berlumur lendir hitam yang mendidih di atas garis-garis magis altar segilima, namun cengkeraman tangan kanannya pada gagang revolver berkarat itu tetap mengunci mati tanpa sedetik pun terlepas. Ribuan pendar lilin putih yang menyembur dari udara kosong di sekeliling mereka menari-nari kian liar, memuntahkan lidah api kuning kemerahan yang memantulkan bayangan siluet monster liar, seliar binatang buas di dinding-dinding ruang keluarga. Maryana yang berada di bawah, tepat di ambang pintu selasar teras yang dipenuhi rumput liar berdebu, langsung menjerit histeris dengan lengkingan suara parau yang memecah kesunyian malam kompleks Bintaro Tua begitu melihat anak tunggalnya berada tepat di bawah cengkeraman kuku raksasa Jatmiko. Isak tangis wanita malam itu pecah total, menyalurkan penyesalan seorang ibu tunggal yang luluh lantak didera ketakutan menyaksikan darah dagingnya sendiri terancam dihanguskan oleh serangan buta sang mantan pengkhotbah mimbar yang keji itu.
Neil memaksa sepasang kakinya yang besar untuk kembali bangkit berdiri, mengabaikan sisa-sisa radiasi dingin yang meremukkan otot-otot pahanya dan menuntut tubuhnya untuk segera menyerah pada maut yang kian mendekat. Sambil menyeka lelehan darah segar dari pelipisnya yang mengotori kain flanel merah marunnya, Neil menggenggam erat sisa seuntai rosario pendeta suci yang melingkar erat di sela jemari tangan kanannya, merasakan logam tasbih itu mulai memancarkan pendar keperakan tipis akibat gesekan batinnya yang kian mengeras sekeras baja. Nalar Neil yang biasanya kaku menolak takhayul lelembut kini telah bermutasi total menjadi insting pelindung yang teramat keras, merobek-robek hukum manusia serta ancaman sel tahanan Polsek demi sebuah kewajiban moral yang jauh lebih tinggi di Jumat malam jahanam ini. Pikirannya bergerak cepat di tengah kepungan bau hangus daging busuk yang memualkan; ia tahu betul dari data sosiologis koran lama di perpustakaan kota bahwa altar bintang segilima ini adalah pusat sirkulasi lingkaran dari dimensi neraka di dunia nyata, tempat di mana Jatmiko menguras seluruh energi spiritual koloni arwah untuk memperbesar kapasitas kekuatannya.
Pikiran di dalam pusat kesadaran Neil terus berputar pada satu kepastian yang mutlak; persetan dengan kontrak hukum bersyarat yang mengunci langkah kakinya, persetan dengan bayang-bayang hukuman dari pihak berwenang Polsek, karena malam ini ia adalah satu-satunya perisai terakhir yang bersedia memasang badan bagi Binar yang telah ia anggap layaknya adik kandungnya sendiri. Jatmiko melangkah turun dari sisa tangga lipat, sayap menjijikkannya berkepak menimbulkan deru angin badai yang mengacaukan seluruh sirkulasi udara di dalam interior rumah peninggalan keluarga Lebron. Arwah jahat itu menatap Neil dengan sepasang mata merah menyala sepekat belerang cair, menganggap haram hukumnya ada manusia hidup yang mengotori tempat ritual sakralnya seiring melonggarnya dinding pembatas antar-dimensi menjelang fajar pengadilan. Neil memosisikan tubuhnya tepat di depan tubuh Binar yang masih mencoba merangkak bangun, mengangkat pergelangan tangannya yang terlilit rosario tinggi-tinggi ke udara sebagai satu-satunya benteng pertahanan spiritual yang tersisa setelah salib kayu kunonya tertinggal di kegelapan loteng atas.
Binar Basundari mendadak menegakkan kepalanya, menatap lurus ke arah punggung tegap Neil dengan sepasang mata legam yang mempertahankan kedataran yang ganjil, dingin, dan luput dari ekspresi air mata ketakutan singkat. Melalui kesunyian yang melompati sekat umur manusia, Neil kembali menangkap getaran batin dari bocah dua belas tahun itu; sebuah instruksi tak kasat mata bahwa altar bintang segilima di bawah kaki mereka harus segera diputus sirkulasi energinya menggunakan revolver Carter sebelum iblis itu berhasil menghancurkan sisa-sisa tubuh mereka. Tanpa berkata-kata, Neil mengerti bahwa keberanian kecil Binar bukanlah bentuk kepasrahan, melainkan sebuah ketetapan batin untuk mengakhiri lingkaran setan trauma kompleks Bintaro Tua yang selama puluhan tahun telah mengunci individualis masyarakat urban di sekitar mereka. Neil memperketat genggaman rosarionya, bersiap memimpin langkah kaki terakhir untuk menerjang langsung ke arah cakar raksasa Jatmiko, memosisikan dirinya sebagai martir yang bersedia meremukkan seluruh dogma hukum demi menyelamatkan sebuah jiwa yang tak berdosa sebelum fajar menyingsing menghapus seluruh kesempatan mereka untuk tetap dalam keadaan bernyawa.