Tepat sebelum cakar berdarah Jatmiko yang panjang dan tajam merobek leher Binar di atas altar bintang segilima, sepasang hantu kembar yang biasanya mendiami sudut sunyi rumah peninggalan keluarga Lebron meluncur cepat dari balik tirai merah yang telah robek berantakan. keberadaan dua arwah bocah yang selama ini memilih bergerak diam-diam di dalam kegelapan dinding pembatas antar-dimensi itu kini telah bermutasi total, melepaskan rupa polos mereka dan menjelma menjadi wujud siren laut yang teramat mengerikan. Kulit pucat mereka berubah menjadi sisik-sisik legam sewarna minyak mentah, sementara rongga mulut mereka melebar hebat, memamerkan deretan taring macan liar yang tajam dan berkilat di bawah kungkungan pendar cahaya mistis ribuan lilin putih. Tanpa ada kepanikan sedikitpun, si kembar menerjang maju membelah pusaran angin badai, langsung menggigit pergelangan tangan raksasa Jatmiko dengan kekuatan penuh, menghunjamkan taring-taring magis mereka menembus kulit tebal sang iblis merah yang sewarna hamparan darah kental.
Neil menyaksikan pemandangan ganjil itu dengan sepasang mata yang melebar, merasakan gelombang radiasi dingin dari pertempuran udara tersebut meremukkan sisa-sisa nalarnya hingga tak bersisa. Dari titik gigitan si kembar, seutas aliran gaib hitam pekat mulai tersedot paksa keluar dari tubuh Jatmiko, menandakan bahwa sepasang siren cilik itu sedang mati-matian menyedot energi hitam sang iblis langsung dari lingkaran takhta penguasa neraka. Namun, kalkulasi takdir di Jumat malam jahanam ini terlampau kejam untuk sebuah pengorbanan yang tak seimbang; kapasitas energi neraka yang mengalir di dalam tubuh Jatmiko terlampau besar untuk ditampung oleh tubuh halus dua anak kecil. Neil menahan napas saat melihat retakan-retakan berwarna merah menyala mulai menjalar di sekujur tubuh halus si kembar, membakar keberadaan spiritual mereka dari dalam seiring dengan tubuh cilik mereka sendiri yang mulai retak-retak terbakar energi neraka.
Cepat hancurkan pistol itu, Neil! Kami tidak akan kuat menahannya lebih lama lagi! jerit si kembar serempak dengan lengkingan suara parau yang melengking sumbang, memecah kepanikan di dalam interior bangunan tua yang kian bising. Jeritan itu bergaung memantul di dinding-dinding tripleks, sebuah keputusasaan yang merobek seluruh ego pribadi Neil dan memaksanya untuk segera membuat keputusan cepat sebelum koloni arwah pelindung ini sepenuhnya musnah menjadi abu. Neil tahu betul, setiap detik yang terbuang adalah sejumput keberadaan si kembar yang dihisap masuk ke dalam pusaran pemusnahan; mereka sedang menukarkan sisa ingatan kemanusiaan mereka demi memberikan satu momen terakhir bagi Neil dan Binar di atas altar segilima. keputusan di dalam kepala Neil bergolak didera rasa bersalah yang teramat pekat, menyadari bahwa ia telah menyeret seluruh penghuni tetap Kompleks Bintaro Tua ke dalam jurang pembantaian spiritual yang berada di luar batas kewajaran.
Neil memaksa sepasang kakinya yang besar untuk bergeser di atas ubin yang berlumur lendir hitam memualkan, merayap mendekati tubuh Binar yang masih mematung memegang pistol revolver kuno peninggalan Keluarga Carter. Bau hangus daging busuk yang menguar dari mulut Jatmiko kian pekat merangsek indra penciuman Neil, memicu rasa mual yang luar biasa hebat hingga memaksa lambungnya bergolak hebat didera rasa sakit fisik yang nyata. Pria itu memperketat lilitan rosario pendeta suci di jemari tangan kanannya, merasakan pendar keperakan tipis dari tasbih kuno itu mulai memanas seolah-olah ikut merespons keputusasaan yang melanda ruang tengah rumah Lebron. Di samping mereka, Maryana masih merangkak mundur di lantai teras dengan blus putih yang berguncang seirama dengan degup jantung yang bertalu-talu panik, menyadari bahwa status sosial atau kalimat umpatan kasar yang dulu ia lontarkan di kelab malam sama sekali tidak memiliki fungsi penyelamatan di hadapan hukum dimensi terlarang ini.
Genggaman tangan Neil beralih menangkup sepasang tangan kecil Binar yang masih gemetaran memegang hulu senjata berkarat berlumur darah kering pembantaian generasi lampau itu, menyalurkan kehangatan singkat dari tubuh dewasanya langsung ke dalam batin sang bocah dua belas tahun. Sepasang manik mata legam milik Binar menatap lurus ke dalam mata Neil dengan kedataran yang ganjil dan dingin, sebuah isyarat tanpa kata yang melompati sekat umur manusia, menandakan bahwa bocah itu telah siap melepaskan seluruh sisa ketakutannya demi mengakhiri lingkaran setan kutukan Bintaro Tua. Kita harus menghancurkan penambat fisik ini bersama-sama sekarang juga, Binar, bisik Neil dengan karakter suara bariton yang sengaja diperkeras demi meredam gelegar tawa makat Jatmiko yang kian menggila di atas mereka seiring dengan retakan tubuh si kembar yang kian melebar memuntahkan sisa energi spiritual mereka ke udara kosong.
Neil mengarahkan laras revolver berdarah itu tepat ke arah pusat diagram bintang segilima di bawah ubin lantai, bersiap menggunakan sisa peluru atau kekuatan rosarionya untuk memicu benturan dimensional yang akan meruntuhkan seluruh fondasi mantra rusak milik sang mantan pengkhotbah mimbar itu. Persetan dengan kontrak hukum bersyarat dari Polsek, persetan dengan ancaman sel tahanan yang dingin, karena malam ini Neil adalah hakim terakhir yang bersedia memasang badan demi memastikan tidak ada lagi manusia hidup yang menjadi tumbal bagi takhta penguasa neraka di Jumat malam jahanam ini. Dengan satu gerakan selaras yang dipandu oleh insting pelindung yang teramat keras, jemari Neil dan Binar menekan pelatuk besi senapan kuno itu secara bersamaan, memicu kilatan cahaya keperakan yang langsung membelah kegelapan interior bangunan tua keluarga Lebron .