Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #35

BAB XXXV

Neil menggunakan sisa momen berharga yang dihadirkan oleh pengorbanan tragis sepasang hantu kembar itu dengan bertaruh nekat, sebuah keputusan spekulatif yang melompati seluruh batasan nalar manusia. Di bawah kungkungan pendar cahaya mistis ribuan lilin putih yang menari-nari kian liar sewarna hamparan darah kental, Neil menyadari bahwasanya menembakkan peluru konvensional dari laras pistol revolver kuno peninggalan Keluarga Carter tidak akan pernah cukup untuk meruntuhkan fondasi dimensional yang mengunci keberadaan Jatmiko. Senjata api berkarat itu adalah relikui terkutuk, sebuah penambat fisik yang mengikat amarah dari takhta penguasa neraka langsung ke dalam interior bangunan tua keluarga Lebron di Jumat malam jahanam ini. Pria itu tidak mengarahkan pistol itu untuk menembak ke arah tubuh raksasa sang iblis merah, melainkan membalikkan genggaman tangannya yang terlilit erat sisa seuntai rosario pendeta suci, lalu menghantamkan popor senjata besi kuno tersebut berkali-kali dengan kekuatan penuh ke atas permukaan salib kayu kuno yang baru saja berhasil ia sambar kembali dari sela-sela ubin yang retak. Salib kuno yang permukaannya mulai mengelupas itu mendadak memancarkan radiasi suci sewarna perak cair, bereaksi secara hebat terhadap hantaman material penuh dendam yang dibawa oleh popor senapan pembantaian generasi lampau tersebut.

Benturan keras yang konstan antara material fisik senjata pembantaian dan simbol religius yang penuh dengan muatan sakral itu seketika memicu letupan energi spiritual yang teramat dahsyat, menciptakan suara gemertak dimensional yang merobek kesunyian Kompleks Bintaro Tua. Udara di dalam ruang keluarga yang menyempit itu mendadak bergolak hebat, memicu gelombang kejut tak kasat mata yang menghempaskan sisa-sisa perabot lama dan kain-kain putih berselimut debu tebal sewarna es krim cokelat tua hingga beterbangan mengotori sudut ruangan. Ubin di atas altar segilima yang berlumur lendir hitam gaib memualkan itu mulai retak-retak berantakan, memancarkan seleret cahaya putih terang benderang yang merayap keluar dari celah-celah retakan lantai, lalu menyapu kehitaman hawa pekat yang selama ini mengunci sirkulasi sirkuit dimensi rendah. Neil merasakan seluruh pori-pori kulit tangannya terbakar oleh sensasi panas yang luar biasa akibat benturan dua polaritas energi yang saling bertolak belakang itu, namun batinnya telah memahat sebuah ketetapan yang tak dapat ditawar lagi oleh rasa sakit fisik yang nyata; ia harus meremukkan penambat ini berkeping-keping sebelum fajar pengadilan menghapus seluruh keberadaan mereka dari dunia orang hidup.

Percakapan di dalam pusat kesadaran Neil terus berputar pada rtime keputusasaan cepat yang kian memuncak seiring dengan semakin dekatnya jangkauan cakar Jatmiko yang meronta dari gigitan si kembar. Neil tahu betul dari data sosiologis yang sempat digalinya, bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan kesepian dan trauma yang bersarang di bawah atap kompleks ini adalah dengan menghancurkan media penghubungnya secara total. Insting pelindungnya yang teramat keras, memaksa otot-otot lengannya yang kekecilan untuk terus mengayunkan hantaman popor besi itu tanpa peduli jika tulang jemarinya harus ikut hancur berantakan.

Binar berdiri mematung tepat di samping pundak kanan Neil, baju tidurnya yang kekecilan tampak berguncang hebat dihempas angin badai spiritual, namun wajah bocah dua belas tahun itu tetap menampilkan kedataran yang teramat dingin dan luput dari ekspresi air mata. Melalui kesunyian yang melompati sekat umur singkat, Neil bisa menangkap getaran batin yang dikirimkan oleh anak tunggal Maryana itu; sebuah keyakinan bahwa kehancuran senjata di tangan mereka adalah satu-satunya jembatan untuk membawa jiwa-jiwa yang terbuang ini menemukan jalan pulang yang damai. Tanpa perlu ada kosakata yang terucap di antara mereka, Binar ikut meletakkan kedua telapak tangan kecilnya di atas punggung tangan Neil, menambah beban hantaman fisik pada popor revolver Carter yang kian terkikis oleh pendar radiasi suci dari bilah salib kayu. Di sudut selasar teras yang dipenuhi rumput liar berdebu, Maryana Basundari menjerit histeris dengan sepasang mata biru gelap yang dipenuhi kengerian mutlak, menyaksikan bagaimana anak tunggalnya bertaruh nyawa di tengah pusaran energi putih yang kian meraksasa membelah interior bangunan tua Lebron.

Jatmiko mengeluarkan raungan suara parau yang teramat dahsyat seiring dengan semakin meluasnya seleret cahaya putih yang mengikis permukaan kulit merah raksasanya, memutasi ekspresi wajah rusak sang mantan pengkhotbah mimbar menjadi sepotong penderitaan yang mutlak. Sayap membran menjijikkannya berkepak liar menimbulkan deru angin puyuh jahanam yang mencoba meruntuhkan sisa eternit langit-langit loteng, namun kuncian taring dari sepasang hantu kembar yang telah menjelma menjadi siren laut legam tetap menahan pergelangan tangannya dengan sisa keberadaan mereka yang kian meredup terbakar energi neraka. Neil merasakan lambungnya kembali bergolak didera rasa mual yang teramat sangat akibat muntahan aroma hangus daging busuk yang kian menyengat dari mulut sang iblis, namun ingatan masa kecilnya tentang kepungan Dillon Haart di lorong sekolah dulu kembali membakar semangat nuraninya untuk tidak pernah lagi menjadi penonton yang pasif di hadapan ketakutan. Jika ia memilih egois menyelamatkan reputasinya dan melarikan diri ke dalam dekapan sunyi masyarakat urban yang individualis, maka Binar dipastikan akan habis dilumat tanpa sisa oleh lingkaran setan trauma kompleks ini.

Dengan satu hantaman terakhir yang menguras seluruh sisa tenaga di dalam tubuhnya, Neil memukulkan popor revolver itu tepat pada inti lingkaran kayu salib kuno, memicu suara dentuman dimensi yang teramat keras hingga meremukkan seluruh kaca jendela rumah peninggalan keluarga Lebron. Senjata kuno Keluarga Carter itu seketika patah menjadi dua bagian, mengeluarkan pekikan hawa hitam pekat yang langsung menguap lenyap tersapu oleh ledakan cahaya putih terang benderang yang merubuhkan seluruh barikade altar bintang segilima di bawah kaki mereka.

Lihat selengkapnya