Di Sini, Setelah Senja Trauma Bersarang

Langit Berawan
Chapter #37

BAB XXXVII

Sisa-sisa cahaya malam Jumat Kliwon yang teramat mencekam, remang, dan dipenuhi oleh kepulan kabut gaib pekat perlahan-lahan mulai memudar dari interior bangunan tua peninggalan keluarga Lebron. Keheningan mutlak yang sempat mengunci Kompleks Bintaro Tua dalam suasana mencekam penuh kematian kini perlahan hilang seiring dengan bergulirnya waktu menuju ambang pagi. Dari balik celah-celah jendela kaca yang telah pecah berantakan akibat ledakan energi spiritual sebelumnya, semburat fajar berwarna kuning keemasan menyemburat masuk dengan kehangatan yang begitu asing, membelah sisa-sisa kegelapan yang menyelimuti ruang tengah. Neil berdiri terengah-engah di pusat ruangan, merasakan partikel udara dingin sedingin es kutub yang semula membakar paru-parunya kini berangsur-angsur menguap, digantikan oleh aroma tanah basah dan embun pagi yang segar. Seluruh labirin altar merah-gelap sewarna hamparan darah kental, ribuan pendar lilin putih yang menyembur dari udara kosong, hingga lukisan ular liar yang mencerminkan takhta penguasa neraka mendadak lenyap tak berbekas dari pandangan mata, mengembalikan interior rumah Lebron menjadi sebuah hunian biasa pada umumnya yang dipenuhi debu tebal, kayu lapuk, dan sisa perabot lama.

Setelah sihir Jatmiko hancur, ruang dan udara di dalam kompleks ini otomatis pulih seperti semula, membersihkan sisa-sisa lendir hitam memualkan yang semula mengotori lantai ubin. Di sekeliling tubuh Neil, koloni arwah kompleks yang menjadi sekutu setianya malam ini—pasutri Adler, Mbah Sandy, Nyai Sandy, serta sepasang hantu kembar yang tubuh halusnya sempat retak-retak terbakar energi neraka—kini tampak melayang rendah di udara kosong. Wujud mereka tidak lagi memperlihatkan mutasi hebat yang mengerikan sewarna binatang atau siren laut legam yang penuh dengan dendam liar; rupa halus para makhluk gaib itu telah bertransformasi kembali menjadi proyeksi batin yang teramat damai, namun dipenuhi oleh pancaran pendar keperakan tipis yang menyejukkan indra penglihatan. Mereka memaku pandangan mereka pada sosok Neil dan Binar Basundari dengan seutas senyuman yang samar, sebuah gestur terima kasih bersama dari jiwa-jiwa yang selama puluhan tahun terkurung dalam kesunyian khas masyarakat urban akibat cengkeraman sang mantan pengkhotbah itu.

Benak Neil berputar perlahan dengan kelegaan yang begitu mendalam, menyaksikan bagaimana lingkungan spiritual Kompleks Bintaro Tua akhirnya berhasil menemukan titik keseimbangan yang baru. Nalarnya yang biasanya kaku menolak takhayul lelembut kini telah bermutasi sepenuhnya menjadi sebuah kearifan dewasanya sendiri, sebuah pemahaman bahwa dunia gaib sering kali hanyalah ekstensi dari trauma dan kesepian manusia hidup yang tidak pernah disembuhkan. Neil menatap pasutri Adler yang melayang berdampingan, rupa beruang liar raksasa mereka telah menguap lenyap, menyisakan sepasang ekspatriat era kolonial yang kini bisa saling menggandeng tangan dengan keanggunan yang utuh tanpa perlu lagi mengunci diri dalam ketakutan pribadi. Pria itu menyadari bahwa taruhan nekatnya menghantamkan popor senjata revolver kuno ke atas permukaan salib kayu kuno malam ini bukan sekadar tindakan melanggar hukum sekuler, melainkan sebuah operasi penyelamatan nurani yang berhasil merobek-robek lingkaran setan kutukan masa lalu demi mengembalikan fungsi sejati dari tempat tinggal ini: sebuah rumah aman tempat jiwa-jiwa yang terbuang akhirnya bisa menemukan jalan pulang yang damai.

Lihat selengkapnya