Pagi itu udara masih lembap oleh sisa hujan malam. Jalanan kecil di depan rumahku tampak mengilap seperti kaca tipis yang memantulkan cahaya matahari muda. Dari dapur terdengar bunyi sendok beradu dengan piring, sementara aroma kopi hitam yang baru diseduh merayap pelan ke ruang tengah.
Aku duduk di kursi kayu tua yang sudah ada sejak aku kecil. Di tanganku ada sebuah amplop cokelat dengan stempel resmi yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Amplop itu tidak tebal.
Namun rasanya seperti memuat seluruh masa depan yang belum sempat kubayangkan.
Namaku tercetak di sudut kiri atas, ditulis dengan huruf formal yang kaku. Di bawahnya tertulis nama instansi pendidikan yang selama ini kuimpikan menjadi tempatku mengabdi.
Aku mengusap amplop itu beberapa kali, seperti seseorang yang belum siap membuka pintu menuju kehidupan yang berbeda.
“Apa isinya?” suara ibuku terdengar dari dapur.
Aku menarik napas pelan.
“Sepertinya surat penempatan.”
Ibuku keluar sambil mengeringkan tangan dengan ujung kain sarungnya. Wajahnya tampak biasa saja, tetapi matanya penuh harap.
Sejak aku lulus kuliah keguruan, ia sering berkata satu kalimat yang sama.
“Jadilah guru yang baik. Itu pekerjaan yang mulia.”
Aku tahu baginya profesi guru bukan sekadar pekerjaan. Itu kehormatan. Itu kebanggaan keluarga.
Tanganku perlahan membuka amplop itu. Kertas putih di dalamnya terasa dingin ketika kusentuh. Aku membaca kalimat pertama dengan pelan.
Lalu kalimat kedua.
Lalu nama daerah yang tertulis di bagian bawah.
Jantungku seperti berhenti sejenak.
“Kenapa?” tanya ibuku.
Aku mengangkat wajah.
“Penempatannya… jauh sekali.”
Ibuku mendekat.
“Di mana?”
Aku menyebut nama daerah itu.
Sejenak ruangan terasa sunyi. Ibuku tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku seolah sedang menghitung sesuatu di dalam pikirannya.
“Bukankah itu daerahnya masih hutan?” katanya akhirnya.
Aku mengangguk pelan.
Daerah itu memang sering disebut orang-orang sebagai tempat yang jauh dari keramaian. Jauh dari kota. Jauh dari listrik yang stabil. Bahkan jauh dari sinyal telepon yang layak. Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa malam di sana benar-benar gelap. Gelap seperti tinta yang tumpah ke langit.
Aku menghela napas panjang. Semua orang yang mendengar namanya selalu memberi reaksi yang sama.
Terkejut.
Atau kasihan.
Ibuku duduk di kursi di depanku.
“Kamu yakin ini benar?”
“Namanya jelas tertulis di sini.”
Ia membaca surat itu dengan pelan, seolah berharap ada kesalahan kecil yang bisa menyelamatkanku dari takdir yang tidak diinginkan.
Namun tidak ada. Semua tertulis jelas. Aku resmi ditempatkan di sebuah sekolah baru yang berdiri di daerah yang bahkan belum pernah kukunjungi. Dan tiba-tiba masa depanku terasa seperti jalan panjang yang berkelok di tengah hutan.
Berita tentang penempatan itu menyebar lebih cepat dari yang kuduga.
Sore harinya aku pergi ke rumah seorang teman yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Kami sudah berteman sejak sekolah dasar. Rumahnya selalu menjadi tempat kami berkumpul ketika ingin mengobrol tanpa tujuan.
Ketika aku tiba, ia sedang duduk di ruang tamu bersama kakak iparnya.
“Eh, guru baru datang!” temanku berseru sambil tertawa.
Aku menjatuhkan tubuh ke sofa dengan dramatis.
“Guru yang mau dibuang ke ujung dunia.”
Mereka tertawa.
“Apa maksudmu?”