Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #2

Sekolah Baru

Pagi pertama di sekolah baruku terasa seperti membuka halaman buku yang masih benar-benar kosong. Udara kota kecil itu tidak terlalu dingin, tetapi ada semacam kesegaran yang membuat napas terasa lebih panjang. Jalan menuju sekolah masih sepi ketika aku mengendarai motor pelan-pelan, melewati deretan pohon akasia yang berdiri seperti penjaga sunyi di sepanjang jalan.

Bangunan sekolah itu terlihat dari kejauhan.

Tidak besar.

Tidak megah.

Tetapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak di depan gerbangnya. Cat temboknya masih tampak baru. Warna biru pucat yang belum sempat pudar oleh panas matahari. Di atas gerbang tertulis nama sekolah dengan huruf besar yang sedikit miring, seolah-olah papan itu dipasang dengan tergesa.

Sekolah ini memang masih sangat muda. Baru berdiri dua tahun. Aku mematikan mesin motor dan berdiri beberapa detik di halaman depan. Perasaan aneh menjalari dadaku. Antara gugup dan penasaran.

Hari ini adalah hari pertamaku sebagai guru di sini. Aku menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Halaman sekolah masih sederhana. Lapangan tanah di tengahnya sedikit berdebu, tetapi beberapa pohon ketapang sudah tumbuh cukup rindang untuk memberi bayangan pada bangku-bangku semen di bawahnya.

Beberapa siswa terlihat berjalan menuju kelas. Sebagian dari mereka menatapku dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan. Guru baru selalu menjadi tontonan kecil di sekolah. Aku sudah terbiasa dengan itu. Namun tetap saja, ada rasa canggung yang sulit dijelaskan.

Di ujung koridor, seorang pria paruh baya berdiri sambil memegang map. Ketika melihatku, ia tersenyum ramah.

“Kamu pasti guru baru itu.”

Aku mengangguk sambil membalas senyum.

“Iya, Pak.”

Ia menjabat tanganku dengan hangat.

“Saya kepala sekolah di sini.”

Namanya Pak Surya. Suaranya tenang, wajahnya bersih dari kesan galak yang sering dimiliki kepala sekolah pada umumnya. Ia mengajakku masuk ke ruang guru yang terletak di sisi kiri bangunan utama.

Ruang itu tidak besar. Ada beberapa meja kayu yang sudah mulai mengelupas di bagian sudutnya. Lemari buku berdiri di dinding belakang dengan pintu kaca yang sedikit retak. Namun ruangan itu terasa hidup.

Beberapa guru sedang duduk mengobrol sambil menyeruput kopi dari gelas plastik. Ketika aku masuk bersama kepala sekolah, percakapan mereka berhenti sejenak.

“Ini guru baru kita,” kata Pak Surya.

Beberapa orang langsung berdiri. Ada yang tersenyum, ada juga yang hanya mengangguk sopan.

Aku memperkenalkan diri dengan suara yang berusaha terdengar percaya diri.

Namaku.

Bidang pelajaranku.

Dan harapanku bisa bekerja sama dengan mereka.

Setelah itu suasana kembali santai.

Seorang guru laki-laki yang duduk di meja dekat jendela mengangkat tangannya.

“Radit,” katanya singkat.

Aku menoleh padanya.

Wajahnya terlihat masih muda, mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Rambutnya agak panjang dan sedikit berantakan, tetapi senyumnya hangat.

“Kalau butuh bantuan di sekolah ini, tanya saja ke saya,” lanjutnya.

Lihat selengkapnya