Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #3

Anak yang Berbeda

Beberapa minggu setelah aku mengajar di sekolah itu, aku mulai memahami satu hal yang sebelumnya hanya terasa samar. Sekolah ini memiliki satu pusat gravitasi. Dan pusat itu adalah seorang siswa.

Namanya Arga.

Awalnya aku hanya mengenalnya sebagai ketua OSIS yang rajin datang ke ruang guru untuk membicarakan kegiatan sekolah. Namun semakin hari, semakin terlihat jelas bahwa pengaruhnya jauh lebih besar daripada sekadar jabatan organisasi.

Arga adalah tipe anak yang tidak perlu banyak bicara untuk membuat orang lain memperhatikannya. Ketika ia berdiri di tengah lapangan saat upacara, barisan siswa otomatis menjadi lebih rapi. Ketika ia memberi instruksi kepada teman-temannya saat kerja bakti, mereka langsung bergerak tanpa banyak protes. Bahkan guru-guru di ruang guru sering menyebut namanya dengan nada yang berbeda.

“Kalau semua murid seperti Arga,” kata salah satu guru suatu siang, “hidup kita pasti jauh lebih mudah.”

Aku hanya tersenyum mendengar itu. Namun diam-diam aku mulai memperhatikan. Ada sesuatu yang unik dari cara Arga memimpin. Ia tidak pernah berbicara dengan suara keras. Tidak pernah terlihat memerintah dengan kasar. Namun entah bagaimana orang-orang tetap mendengarkannya.

Suatu sore aku melihatnya di lapangan. Beberapa siswa sedang mempersiapkan panggung kecil untuk acara sekolah minggu depan. Kayu-kayu berserakan di tanah, dan beberapa anak terlihat kebingungan memegang palu.

Arga berdiri di tengah mereka.

“Kalau dipasang begitu nanti panggungnya miring,” katanya sambil mengambil papan dari tangan seorang siswa.

Ia berjongkok, mengukur jarak dengan telapak tangannya, lalu memasang papan itu kembali.

“Coba sekarang paku di sini.”

Seorang siswa lain langsung mengikuti instruksinya. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang mengeluh.

Aku berdiri di koridor sambil memperhatikan mereka. Entah mengapa pemandangan itu terasa menarik. Seorang siswa kelas akhir yang mengatur semuanya dengan ketenangan yang jarang kulihat pada anak seusianya.

“Bu.”

Suara itu membuatku menoleh. Arga berdiri beberapa langkah di belakangku. Aku bahkan tidak menyadari kapan ia meninggalkan lapangan.

“Maaf mengganggu,” katanya.

“Ada yang ingin saya tanyakan tentang acara minggu depan.”

Aku mengangguk.

“Tentu.”

Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya.

“Kami ingin menambahkan sesi diskusi kecil setelah lomba,” katanya sambil membuka halaman yang penuh coretan rapi.

Aku sedikit terkejut.

“Diskusi?”

“Iya. Tentang rencana kegiatan siswa untuk tahun depan.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Siapa yang mengusulkan?”

Ia tersenyum tipis.

“Saya.”

Aku tertawa kecil.

“Tentu saja.”

Ia terlihat tidak tersinggung. Justru ekspresinya semakin santai.

“Kira-kira menurut Ibu ide itu terlalu berat untuk acara sekolah?”

Aku berpikir sejenak.

“Tidak juga,” kataku akhirnya.

“Justru bagus kalau siswa mulai belajar berdiskusi tentang masa depan mereka.”

Arga mencatat sesuatu di bukunya.

Lihat selengkapnya