Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #4

Desas Desus

Sekolah kecil selalu memiliki satu sifat yang sama. Rahasia jarang bertahan lama. Ia bergerak dari satu meja ke meja lain, dari satu bangku ke bangku berikutnya, seperti angin yang menyusup di antara jendela-jendela kelas yang selalu terbuka.

Awalnya hanya bisikan kecil. Lalu perlahan menjadi cerita. Dan pada akhirnya berubah menjadi desas-desus yang tidak jelas dari mana asalnya.

Semua itu dimulai dari hal yang sebenarnya sangat sederhana.

Sore itu aku benar-benar datang melihat latihan acara sekolah seperti yang diminta Arga. Lapangan dipenuhi siswa yang sibuk mempersiapkan berbagai hal. Ada yang mengangkat kursi, ada yang mencoba mikrofon, dan ada juga yang hanya berdiri sambil bercanda.

Ketika aku tiba, Arga langsung menghampiri.

“Terima kasih sudah datang, Bu,” katanya dengan senyum lega.

Aku hanya mengangguk.

“Kalian sudah siap?”

Ia melirik ke arah panggung kecil yang sedang disusun.

“Masih sedikit berantakan.”

Aku tertawa kecil.

“Latihan memang selalu begitu.”

Kami berdiri di pinggir lapangan sambil memperhatikan anak-anak lain bekerja. Sesekali Arga berjalan ke sana kemari memberi instruksi. Namun setiap beberapa menit ia kembali berdiri di dekatku untuk menjelaskan perkembangan persiapan acara.

Tanpa kami sadari, beberapa pasang mata memperhatikan dari kejauhan. Di bawah pohon ketapang, sekelompok siswi duduk sambil menonton.

Lita ada di antara mereka.

“Lihat itu,” bisik salah satu temannya.

“Arga dari tadi di dekat Bu Guru terus.”

Lita tidak langsung menjawab.

Namun ekspresinya terlihat kaku.

“Padahal biasanya dia tidak pernah lama-lama ngobrol sama guru,” kata temannya lagi.

Yang lain tertawa kecil.

“Mungkin guru baru itu spesial.”

Kata-kata itu terdengar seperti candaan. Namun candaan sering kali menjadi bahan bakar terbaik bagi gosip.

Hari berikutnya, bisikan kecil itu mulai berpindah dari satu kelas ke kelas lain.

“Aku lihat Arga ngobrol lama sekali dengan Bu Guru kemarin.”

“Serius?”

“Iya. Mereka berdiri berdua di lapangan hampir satu jam.”

“Wah.”

Kalimat terakhir itu selalu diucapkan dengan nada yang sama. Nada penuh makna yang tidak pernah dijelaskan secara langsung.

Aku mulai merasakan perubahan kecil beberapa hari kemudian.

Di kelas, beberapa siswa terkadang menatapku sambil berbisik dengan teman di sebelahnya. Ketika aku berjalan di koridor, ada yang tiba-tiba berhenti bicara.

Awalnya aku mengabaikan semuanya.

Sekolah memang selalu penuh cerita kecil seperti itu. Namun suatu siang, sesuatu terjadi yang membuat semuanya terasa lebih nyata.

Lihat selengkapnya