Sejak kejadian di lapangan itu, suasana sekolah terasa sedikit berbeda bagiku. Tidak ada yang benar-benar berubah secara terang-terangan. Kelas tetap berjalan seperti biasa. Guru-guru masih sibuk dengan jadwal mereka. Siswa-siswa tetap berisik di koridor seperti hari-hari sebelumnya.
Namun di antara semua rutinitas itu, ada sesuatu yang terasa bergeser. Beberapa siswa masih sesekali berbisik ketika aku lewat. Beberapa guru menatapku sedikit lebih lama dari biasanya. Dan setiap kali Arga muncul di dekatku, aku merasakan perhatian orang-orang di sekitar kami menjadi lebih tajam.
Aku berusaha mengabaikan semuanya. Bagiku Arga tetaplah seorang murid. Dan aku tetap seorang guru. Namun garis sederhana itu perlahan mulai terasa lebih tipis dari sebelumnya.
Sore itu hujan turun tanpa peringatan. Langit yang sejak siang tampak cerah tiba-tiba berubah kelabu. Angin membawa awan gelap yang bergerak cepat di atas sekolah, dan tak lama kemudian tetes-tetes air jatuh seperti seseorang menumpahkan ember dari langit.
Sebagian siswa berlarian ke koridor. Sebagian lain menunggu di kelas sampai hujan reda. Aku masih berada di ruang guru ketika suara hujan mulai membesar di atap seng. Ruangan itu hampir kosong. Sebagian besar guru sudah pulang lebih dulu. Aku sedang merapikan beberapa buku ketika pintu diketuk pelan.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Arga berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit basah oleh hujan.
“Maaf mengganggu, Bu.”
Aku menatapnya sedikit heran.
“Kamu belum pulang?”
Ia menggeleng.
“Hujannya terlalu deras.”
Aku melirik ke luar jendela. Memang benar. Lapangan sekolah sudah berubah menjadi hamparan air tipis yang memantulkan langit abu-abu.
“Duduk saja dulu,” kataku.
Ia masuk dan duduk di kursi di seberang mejaku. Beberapa detik kami hanya mendengarkan suara hujan yang menghantam atap sekolah. Suara itu keras tetapi anehnya menenangkan.
“Latihan acara sudah selesai?” tanyaku.
“Sudah.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan,
“Terima kasih sudah membantu kami beberapa hari ini.”
Aku tersenyum.
“Itu memang tugas guru.”
Arga menggeleng pelan.
“Tidak semua guru mau meluangkan waktu seperti itu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Beberapa pujian terasa terlalu tulus hingga membuat kita canggung. Aku memilih mengalihkan pembicaraan.
“Kamu tidak membawa payung?”
“Tidak.”
Ia tertawa kecil.
“Saya pikir tadi tidak akan hujan.”
Aku menatapnya sebentar.