Hujan yang turun sore itu ternyata tidak hanya meninggalkan genangan air di halaman sekolah. Ia juga meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sulit dihapus. Percakapan singkat di ruang guru itu terus berputar di kepalaku selama beberapa hari berikutnya. Bukan karena kata-katanya luar biasa. Justru karena kesederhanaannya.
Cara Arga menatapku sebelum pergi.
Cara ia mengucapkan terima kasih.
Dan cara suasana di ruangan itu berubah tanpa alasan yang jelas.
Aku mencoba menepis semua pikiran itu. Sebagai guru, aku tahu batas yang harus dijaga. Dan batas itu tidak boleh kabur hanya karena satu percakapan di tengah hujan. Namun ternyata menjaga jarak tidak selalu semudah yang kita bayangkan.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mulai melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.
Aku sengaja menghindari Arga. Bukan menghindari secara terang-terangan.
Aku hanya memastikan bahwa jika ada kegiatan OSIS, guru lain yang lebih sering menanganinya. Jika Arga datang ke ruang guru, aku biasanya sudah keluar lebih dulu.
Aku berharap jarak kecil itu bisa membuat semuanya kembali normal. Namun justru pada saat itulah gosip di sekolah mulai benar-benar tumbuh.
Awalnya hanya bisikan. Lalu berubah menjadi cerita yang semakin berani. Di kantin, beberapa siswa mulai berbicara lebih keras dari biasanya.
“Katanya Arga sering ke ruang guru cuma buat ketemu Bu guru itu.”
“Serius?”
“Iya. Temanku lihat sendiri.”
“Tapi sekarang jarang.”
“Ya mungkin karena sudah ketahuan.”
Tawa kecil mengikuti kalimat itu. Cerita-cerita seperti itu berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain dengan cepat. Beberapa bahkan mulai menambahkan bumbu sendiri.
“Arga itu sebenarnya suka sama dia.”
“Makanya dia selalu cari alasan buat kegiatan sekolah.”
Tidak ada yang tahu dari mana semua itu berasal. Namun cerita itu menyebar seperti api kecil di musim kemarau. Dan seperti semua api kecil, ia akhirnya sampai ke telinga orang-orang yang lebih dewasa.
Suatu siang di ruang guru, aku merasakan sesuatu yang aneh. Ketika aku masuk, dua orang guru yang sedang berbicara langsung berhenti. Mereka saling pandang sebentar sebelum kembali mengoreksi buku di meja masing-masing.
Aku berpura-pura tidak menyadari. Namun suasana di ruangan itu terasa berbeda. Lebih kaku.
Pak Surya bahkan sempat memanggilku ke ruangannya sore itu.
“Duduklah.”
Nada suaranya masih sama seperti biasanya.
Tenang.
Namun tatapannya sedikit lebih serius.
“Bagaimana kegiatan siswa akhir-akhir ini?” tanyanya.
“Berjalan baik, Pak.”
Ia mengangguk.
Lalu ada jeda beberapa detik sebelum ia berkata lagi.
“Saya hanya ingin mengingatkan satu hal.”
Aku menunggu.
“Sekolah ini kecil.”
Aku mengangguk pelan.
“Cerita kecil bisa menjadi besar dengan cepat.”
Kalimat itu sederhana. Namun aku tahu persis maksudnya. Aku menarik napas pelan.
“Pak, saya tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas.”
Pak Surya menatapku cukup lama.