Gosip di sekolah kecil tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berubah bentuk. Jika sebelumnya hanya berupa bisikan di antara siswa, kini cerita itu mulai bergerak ke tempat yang lebih berbahaya ke telinga orang-orang dewasa yang merasa memiliki hak untuk mengatur segalanya. Dan seperti badai yang datang dari laut jauh, tanda-tandanya mulai terasa sebelum benar-benar terlihat.
Suatu pagi suasana ruang guru terasa lebih tegang dari biasanya.
Aku baru saja meletakkan tas di meja ketika melihat beberapa guru berkumpul di dekat jendela. Mereka berbicara pelan, tetapi wajah mereka tampak serius.
Ketika aku masuk, percakapan itu berhenti. Beberapa dari mereka berpura-pura sibuk membuka buku. Yang lain hanya tersenyum tipis.
Aku sudah mulai terbiasa dengan suasana seperti itu. Namun pagi itu terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih penuh sesuatu yang tidak diucapkan.
Tak lama kemudian Pak Surya masuk ke ruang guru. Ia tidak langsung berbicara. Namun dari cara ia berdiri di depan meja besar di tengah ruangan, aku tahu sesuatu akan terjadi.
“Kita akan mengadakan rapat kecil siang ini,” katanya.
Beberapa guru saling berpandangan.
“Komite sekolah akan datang.”
Kalimat itu membuat ruangan menjadi lebih sunyi. Komite sekolah jarang datang tanpa alasan penting. Aku merasakan perasaan tidak enak mulai muncul di dalam dada. Dan entah mengapa, aku sudah bisa menebak alasan kedatangan mereka.
Di sisi lain sekolah, Arga sedang berada di kelas ketika salah satu temannya berlari masuk dengan napas terengah.
“Ga.”
Arga mengangkat kepala dari bukunya.
“Apa?”
“Orang tuanya Lita datang ke sekolah.”
Arga mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
Temannya menurunkan suara.
“Katanya mau bicara dengan kepala sekolah.”
“Masalah apa?”
Anak itu menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Masalah kamu.”
Arga tidak langsung bereaksi.
Namun di dalam kepalanya, potongan-potongan cerita yang selama ini ia dengar mulai tersambung.
Gosip.
Bisikan.
Tatapan aneh dari beberapa guru.
Ia menutup bukunya perlahan.
“Siapa lagi yang datang?”
“Katanya ada beberapa orang tua lain.”
Arga berdiri.
“Ada apa sebenarnya?”
Temannya ragu sebelum menjawab.
“Katanya… mereka tidak suka kamu terlalu dekat dengan guru itu.”
Ruangan kelas tiba-tiba terasa lebih sempit. Namun wajah Arga tetap tenang. Ia hanya mengangguk pelan.
“Terima kasih sudah memberi tahu.”
Siang itu rapat diadakan di ruang kepala sekolah. Beberapa kursi tambahan disusun di sekitar meja besar.