Di desa kecil, berita tidak pernah berjalan pelan. Ia bergerak seperti air yang merembes melalui tanah, diam-diam, tetapi pasti sampai ke setiap rumah.
Rapat di sekolah siang itu sebenarnya berlangsung tidak terlalu lama. Setelah Arga keluar dari ruangan, pembicaraan kembali berjalan dengan nada yang lebih hati-hati. Pak Surya berusaha menenangkan para orang tua dan menjelaskan bahwa tidak ada bukti apa pun tentang tuduhan yang mereka dengar. Namun bagi sebagian orang, penjelasan sering kali tidak sekuat kecurigaan.
Dan begitu rapat selesai, cerita itu segera keluar dari pagar sekolah.
Sore itu juga beberapa siswa sudah menceritakannya kepada orang tua mereka.
“Katanya ada masalah antara Arga dan Bu Guru.”
“Komite sekolah sampai datang.”
“Orang tua Lita marah-marah.”
Cerita itu berpindah dari satu rumah ke rumah lain dengan cepat. Setiap orang menambahkan sedikit versi mereka sendiri, seperti orang yang menaburkan bumbu ke dalam masakan yang sudah cukup pedas. Ketika cerita itu sampai ke telinga tetangga di sekitar rumah kontrakanku, bentuknya sudah jauh berbeda.
“Katanya ada guru yang terlalu dekat dengan muridnya.”
“Anaknya ketua OSIS lagi.”
“Sekolah sekarang aneh-aneh saja.”
Aku pertama kali merasakan dampaknya keesokan harinya ketika pergi membeli sayur di warung kecil dekat rumah. Biasanya ibu pemilik warung selalu menyapaku dengan ramah.
“Pagi, Bu Guru.”
Namun pagi itu sapaan itu terdengar lebih kaku. Beberapa ibu yang sedang duduk di bangku bambu berhenti berbicara ketika aku datang. Mereka tidak menatapku secara langsung. Namun bisikan mereka terdengar cukup jelas.
Aku berpura-pura tidak mendengar. Aku memilih sayur dengan cepat dan membayar tanpa banyak bicara.
Ketika berjalan pulang, langkahku terasa lebih berat dari biasanya. Aku sudah menjadi guru selama beberapa tahun, tetapi belum pernah merasakan sesuatu seperti ini.
Bukan kemarahan.
Bukan juga penghinaan yang terang-terangan.
Lebih seperti tatapan yang diam-diam mempertanyakan siapa dirimu sebenarnya. Dan tatapan seperti itu sering kali jauh lebih menyakitkan.
Tekanan itu tidak hanya datang dari luar. Beberapa hari kemudian, ibuku menelepon. Suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.
“Kamu baik-baik saja?”
Aku tahu pertanyaan itu tidak datang tanpa alasan.
“Kenapa, Mak?”
Ibuku diam sejenak sebelum menjawab.
“Ada orang yang bercerita ke keluarga kita.”
Dadaku terasa sedikit sesak.
“Cerita apa?”
“Kata mereka ada masalah di sekolahmu.”
Aku mencoba tetap tenang.
“Itu hanya gosip, Mak.”
“Gosip kadang bisa menghancurkan nama baik orang.”
Nada suara ibuku tidak marah. Namun penuh kekhawatiran.
“Kamu harus hati-hati.”
“Aku tahu.”
“Jangan sampai orang-orang punya alasan untuk berbicara buruk.”
Aku menggigit bibir.
“Aku tidak melakukan apa pun yang salah.”
Ibuku menghela napas pelan.