Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #10

Keputusan yang Mengguncang

Beberapa keputusan tidak pernah terasa benar. Bahkan ketika kita tahu itu satu-satunya jalan yang tersisa. Aku menyadari hal itu ketika duduk di ruang kepala sekolah dua hari setelah Arga datang ke rumahku malam itu.

Di luar jendela, halaman sekolah terlihat seperti biasa. Siswa-siswa berjalan tergesa menuju kelas, beberapa tertawa keras, beberapa membawa buku di dada mereka seperti perisai kecil dari dunia.

Pemandangan yang sudah terlalu akrab. Dan mungkin sebentar lagi bukan lagi bagian dari hidupku.

Pak Surya duduk di depan meja dengan wajah yang lebih berat dari biasanya.

“Aku tidak ingin memaksamu,” katanya pelan.

Di atas meja ada sebuah map cokelat. Aku sudah tahu apa isinya.

Surat permohonan mutasi.

Bukan perintah.

Bukan hukuman.

Namun tetap saja terasa seperti pengakuan bahwa aku kalah melawan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kulakukan.

“Komite sekolah masih menekan?” tanyaku.

Pak Surya mengangguk.

“Beberapa orang tua bahkan mengancam memindahkan anak mereka jika masalah ini tidak diselesaikan.”

Aku tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya menerima bahwa badai memang tidak bisa dihentikan.

“Aku tidak ingin sekolah ini kehilangan murid hanya karena gosip.”

Pak Surya menatapku lama.

“Kamu tidak pantas menerima ini.”

Aku menunduk sebentar.

“Kadang yang pantas tidak selalu yang terjadi.”

Ruangan itu menjadi sunyi. Aku mengambil pulpen yang ada di meja. Tanganku sedikit gemetar. Di kepalaku muncul banyak hal sekaligus.

Suara ibuku di telepon. Tatapan para ibu di warung. Bisikan siswa di koridor. Dan wajah Arga yang berdiri di ruang rapat, membelaku dengan keberanian yang membuat semua orang terdiam.

Aku menarik napas panjang.

Lalu menandatangani surat itu.

Tinta hitam mengalir di atas kertas dengan tenang. Satu garis tanda tangan yang terasa seperti memotong hidupku menjadi dua bagian.

Sebelum.

Dan sesudah.

***

Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang kuduga. Sore itu juga beberapa siswa sudah mendengarnya.

“Bu Guru pindah?”

“Serius?”

“Kenapa?”

Versi ceritanya berbeda-beda.

Namun satu hal sama di setiap cerita. Semua orang tahu bahwa keputusan itu berhubungan dengan gosip yang selama ini beredar.

Arga mendengar kabar itu dari seorang teman di lapangan basket. Ia baru saja selesai latihan ketika seorang siswa kelas sebelas berlari mendekatinya.

“Ga, kamu sudah dengar?”

“Mendengar apa?”

“Bu Guru.”

Arga langsung berhenti berjalan.

“Ada apa dengan beliau?”

“Katanya beliau akan pindah sekolah.”

Dunia Arga terasa seperti berhenti sejenak.

Lihat selengkapnya