Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #11

Dunia yang Menentang

Desa kecil memiliki cara sendiri untuk menunjukkan penolakannya. Tidak selalu dengan teriakan. Kadang cukup dengan tatapan. Kadang dengan pintu yang tidak lagi terbuka. Kadang dengan bisikan yang terdengar ketika seseorang lewat.

Beberapa hari setelah kejadian di sekolah, aku mulai merasakan semuanya sekaligus. Di jalan menuju warung, beberapa orang berhenti berbicara ketika aku lewat. Di halaman sekolah, siswa-siswa memandangku dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya.

Ada yang penasaran.

Ada yang takut.

Ada juga yang memandangku seperti aku adalah masalah yang sedang mereka pelajari dari jauh. Namun yang paling menyakitkan adalah ketika sebagian orang mulai berhenti menyembunyikan penghinaan mereka.

Suatu sore ketika aku berjalan melewati sekelompok ibu di depan rumah salah satu warga, salah seorang dari mereka berkata cukup keras agar aku mendengar.

“Begitulah kalau guru lupa batas.”

Beberapa yang lain tertawa kecil.

Aku tidak berhenti berjalan.

Namun kata-kata itu terasa seperti batu kecil yang dilemparkan ke punggungku. Tidak cukup kuat untuk menjatuhkan. Tetapi cukup untuk meninggalkan rasa sakit yang terus mengganggu.

Aku tahu waktuku di desa ini hampir selesai. Surat mutasiku sudah disetujui. Dua minggu lagi aku akan pindah ke sekolah lain di tempat yang lebih jauh.

Tempat yang tidak mengenalku.

Tempat yang tidak membawa cerita ini.

Namun sebelum hari itu tiba, sesuatu yang jauh lebih berat datang.

***

Sore itu langit mulai gelap ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah kontrakanku. Aku sedang melipat beberapa pakaian ke dalam koper kecil ketika mendengar suara pintu mobil dibuka.

Langkah kaki terdengar mendekati rumah. Ketukan keras muncul di pintu. Ketika kubuka, tiga orang berdiri di sana.

Seorang pria paruh baya. Seorang wanita dengan wajah tegang. Dan di belakang mereka, Arga.

Aku langsung tahu siapa mereka.

Ayah dan ibu Arga.

Pria itu menatapku dengan wajah yang tidak menyembunyikan kemarahannya.

“Kita perlu bicara.”

Aku membuka pintu lebih lebar. Mereka masuk tanpa banyak kata.

Ruangan kecil itu tiba-tiba terasa terlalu sempit untuk menampung ketegangan yang ada. Ibu Arga memandang sekeliling rumah seolah ingin memastikan sesuatu. Sementara ayahnya berdiri tepat di tengah ruangan.

“Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan anak saya?”

Pertanyaan itu keluar tanpa basa-basi.

Aku mencoba menjaga suaraku tetap tenang.

“Tidak ada apa-apa.”

Ayah Arga tertawa pendek.

“Seluruh desa berbicara tentang ini.”

Aku menatapnya.

“Itu hanya gosip.”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat.

“Anak saya mengatakan sendiri bahwa dia mencintaimu.”

Ruangan itu terasa lebih sunyi.

Aku tidak menjawab.

Arga berdiri di belakang orang tuanya dengan wajah tegang. Ibunya akhirnya berbicara.

Lihat selengkapnya