Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #12

Perpisahan yang Mengubah Segalanya

Hari terakhir sering datang dengan cara yang aneh. Tidak selalu terasa seperti akhir. Kadang justru terasa terlalu biasa.

Pagi itu aku bangun lebih cepat dari biasanya. Matahari baru saja muncul di balik pepohonan di ujung desa, cahayanya masuk melalui jendela kecil kamar kontrakanku. Beberapa koper sudah tersusun di sudut ruangan. Tidak banyak barang yang kumiliki.

Beberapa buku.

Pakaian.

Dan beberapa catatan pelajaran yang selama ini menemaniku mengajar. Aku berdiri cukup lama memandang ruangan kecil itu. Di tempat inilah aku menghabiskan malam-malam panjang menyiapkan materi. Di tempat ini juga aku mulai merasakan bagaimana gosip bisa mengubah hidup seseorang.

Hari ini aku akan meninggalkan semuanya. Tanpa kepastian apakah suatu hari aku akan kembali.

***

Di sekolah, suasana terasa berbeda. Mungkin karena kabar tentang kepindahanku sudah menyebar ke semua kelas. Beberapa siswa menyapaku dengan lebih pelan dari biasanya. Beberapa yang lain justru mendekat, seolah takut kehilangan kesempatan berbicara.

Ketika aku masuk ke kelas terakhir yang kuajar, seluruh ruangan langsung hening. Biasanya mereka masih bercanda sebelum pelajaran dimulai. Namun hari itu semua siswa sudah duduk di tempat mereka. Seolah mereka sudah sepakat untuk membuat pagi ini berbeda.

Aku tersenyum kecil.

“Kalian terlihat sangat serius hari ini.”

Tidak ada yang tertawa. Beberapa siswa justru menunduk. Akhirnya seorang siswi di barisan depan mengangkat tangan.

“Bu… apakah benar Ibu akan pindah?”

Aku menatap mereka satu per satu. Beberapa wajah terlihat menunggu dengan cemas.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Ruangan itu langsung dipenuhi bisikan kecil.

Seorang siswa berkata dengan suara yang hampir pecah,

“Kenapa, Bu?”

Aku berjalan perlahan ke depan kelas.

“Kadang seorang guru harus pergi ke tempat lain.”

“Itu karena gosip itu, ya?”

Aku terdiam.

Aku tahu mereka semua sudah mendengar cerita yang beredar. Namun aku tidak ingin meninggalkan mereka dengan kemarahan atau kebencian.

“Yang penting bukan alasan aku pergi,” kataku pelan.

“Yang penting adalah kalian tetap belajar dengan baik.”

Beberapa siswa mulai menangis. Suasana kelas menjadi berat dengan emosi yang tidak sempat mereka sembunyikan.

Seorang siswa di belakang tiba-tiba berkata,

“Kami tahu Ibu tidak melakukan apa-apa.”

Kalimat itu membuat tenggorokanku terasa sesak.

Aku tersenyum, meski mataku mulai panas.

“Terima kasih.”

Lihat selengkapnya