Kota selalu terasa berbeda dari desa.
Di desa, orang mengenal langkahmu bahkan sebelum kamu sampai di ujung jalan. Mereka tahu kapan kamu pulang, kapan kamu pergi, bahkan kadang tahu isi hidupmu lebih cepat daripada kamu sendiri.
Di kota, tidak ada yang peduli.
Orang-orang berjalan cepat dengan pikiran mereka masing-masing. Wajah-wajah asing berlalu tanpa sempat saling mengingat. Dan untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, aku merasa sedikit lega.
Aku tiba di kota pada awal musim hujan. Jalan-jalan masih basah oleh sisa hujan pagi ketika bus yang kutumpangi berhenti di terminal kecil di pinggiran kota. Udara terasa lebih padat. Lebih bising. Namun justru itulah yang membuatku merasa aman.
Tidak ada yang mengenalku di sini.
Tidak ada yang membawa cerita lama tentangku.
Sekolah baruku berada di sebuah kawasan yang lebih ramai. Gedungnya lebih besar daripada sekolah di desa, dengan halaman luas dan deretan pohon tua yang membuat suasana sedikit teduh di tengah hiruk pikuk kota.
Hari pertama aku mengajar di sana terasa aneh.
Murid-murid di kelas memperkenalkan diri satu per satu. Mereka tidak tahu siapa aku sebelumnya. Bagi mereka, aku hanya guru baru. Bukan sosok yang pernah menjadi bahan bisik-bisik desa. Bukan orang yang namanya pernah disebut dengan nada merendahkan di warung-warung kecil.
Dan perasaan itu… terasa seperti memulai hidup dari halaman yang benar-benar kosong.
Hari-hari mulai berjalan dengan ritme baru.
Pagi diisi dengan mengajar.
Siang dengan menilai tugas.
Malam dengan menyiapkan materi pelajaran berikutnya.
Sesekali aku berjalan di trotoar kota yang ramai hanya untuk merasakan bahwa dunia ternyata jauh lebih besar dari desa kecil yang kutinggalkan. Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang.
Kenangan.
Kadang muncul begitu saja.
Saat melihat seorang siswa berdiri dengan percaya diri di depan kelas.
Saat mendengar suara tawa anak-anak di lapangan.
Atau ketika seseorang berbicara dengan keberanian yang mengingatkanku pada seseorang yang dulu berdiri di ruang rapat sekolah dan menentang seluruh ruangan.
Arga.
Aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya sejak hari aku meninggalkan desa. Dan mungkin itu memang yang terbaik. Karena beberapa cerita harus berhenti di tempat yang tepat agar tidak menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan. Namun hidup tidak selalu mengikuti keinginan manusia.
***
Suatu sore, hujan turun deras di kota. Aku baru saja keluar dari ruang guru ketika melihat halaman sekolah hampir kosong. Sebagian besar siswa sudah pulang lebih awal karena cuaca buruk.
Aku berdiri di bawah atap koridor menunggu hujan sedikit reda. Air jatuh deras di halaman, menciptakan suara yang menenangkan sekaligus membuat suasana terasa sepi. Saat itulah aku melihat seseorang berdiri di gerbang sekolah.