Pertemuan kembali sering kali tidak berjalan seperti yang dibayangkan. Kadang tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata besar. Hanya keheningan yang sedikit canggung, seolah dua orang sedang mencoba memahami bagaimana waktu telah mengubah mereka.
Setelah hujan sore itu reda, Arga tidak langsung pergi. Kami berjalan keluar dari gerbang sekolah menuju trotoar yang masih basah oleh air hujan. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, membuat genangan air memantulkan cahaya kekuningan yang lembut.
Beberapa langkah pertama terasa sangat sunyi. Aku masih mencoba memahami bagaimana seorang siswa yang dulu kutinggalkan di desa kini berdiri di sampingku di kota besar ini.
“Kamu tinggal di mana sekarang?” tanyaku akhirnya.
“Tidak jauh dari sini.”
Arga menunjuk ke arah jalan besar.
“Saya menyewa kamar kecil dekat kampus.”
“Kampus?”
Ia tersenyum kecil.
“Iya. Saya sudah kuliah sekarang.”
Aku menoleh, sedikit terkejut.
“Cepat sekali.”
“Saya masuk lebih awal.”
Ada sesuatu dalam cara ia berbicara yang berbeda dari dulu. Nada suaranya lebih tenang. Gerak tubuhnya lebih mantap. Bukan lagi anak sekolah yang terburu-buru dalam setiap keputusan. Ia sudah berubah. Dan perubahan itu membuat jarak di antara kami terasa lebih rumit daripada sebelumnya.
“Kamu mengambil jurusan apa?” tanyaku.
“Teknik.”
Ia tertawa kecil.
“Tidak terlalu romantis.”
Aku ikut tersenyum.
“Justru bagus.”
Kami berhenti di sebuah warung kopi kecil di sudut jalan. Lampu kuning hangat dari dalam ruangan membuat tempat itu terlihat nyaman di tengah udara malam yang mulai dingin.
Kami duduk di meja dekat jendela. Untuk beberapa menit, percakapan kami terasa ringan.
Tentang kehidupan di kota.
Tentang kesibukan kuliah.
Tentang sekolah baruku yang jauh lebih besar daripada sekolah di desa.
Namun di balik percakapan sederhana itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Perasaan yang dulu pernah diucapkan Arga dengan begitu berani. Dan yang sampai sekarang belum pernah benar-benar kami bicarakan lagi.
“Apakah Ibu bahagia di sini?” tanya Arga tiba-tiba.
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Aku memandang keluar jendela sebelum menjawab.
“Lebih tenang.”
“Bukan itu yang saya tanyakan.”
Aku menoleh kembali padanya.
“Bahagia itu kata yang besar.”
Arga mengangguk pelan.
“Dulu saya berpikir kalau Ibu pergi, semuanya akan selesai.”