Ada satu hal tentang masa lalu yang sering dilupakan orang. Ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.
Beberapa minggu setelah kunjunganku ke studio Arga, kehidupanku di kota kembali berjalan dengan ritme yang hampir normal. Pagi diisi dengan mengajar, siang dengan pekerjaan sekolah, dan sore kadang dihabiskan berjalan pulang melewati trotoar kota yang ramai. Namun ada satu perubahan yang pelan-pelan menjadi bagian dari hari-hariku.
Arga.
Kadang ia menungguku di depan sekolah setelah aku selesai mengajar. Kadang kami hanya berjalan beberapa blok sambil berbicara tentang hal-hal sederhana: kuliahnya, pekerjaannya di studio, atau murid-muridku yang sering membuat kelas terasa lebih hidup.
Hubungan kami tidak pernah benar-benar didefinisikan. Namun orang-orang di sekitar mulai memperhatikan.
Di ruang guru, beberapa rekan kerja sering melontarkan pertanyaan dengan nada bercanda.
“Siapa pemuda yang sering menjemputmu itu?”
Aku biasanya hanya tersenyum dan menjawab singkat.
“Teman lama.”
Namun jawaban sederhana itu tidak selalu memuaskan rasa ingin tahu orang.
Suatu siang ketika aku sedang menyiapkan materi pelajaran, Rina duduk di kursi di sebelahku.
“Boleh bertanya sesuatu?”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Pemuda itu.”
Aku tahu ia berbicara tentang Arga.
“Kenapa?”
Rina menyandarkan dagunya pada tangannya.
“Kalian terlihat sangat dekat.”
Aku mencoba tetap santai.
“Dia pernah menjadi muridku dulu.”
Alis Rina terangkat.
“Serius?”
Aku mengangguk.
Ia tertawa kecil.
“Wah… itu cerita yang menarik.”
Nada suaranya tidak mengejek. Namun aku bisa merasakan bahwa cerita itu sudah mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar rasa penasaran. Dan aku tidak tahu seberapa jauh cerita itu akan berjalan.
***
Sementara itu, di studio desain, Maya mulai memperhatikan perubahan pada Arga. Ia sering melihat Arga menatap ponselnya dengan senyum kecil. Atau meninggalkan studio lebih awal pada beberapa sore tertentu.
Suatu malam ketika mereka sedang menyelesaikan desain proyek kecil, Maya akhirnya berkata,
“Kamu sering keluar akhir-akhir ini.”
Arga tidak mengangkat kepala dari layar komputer.
“Hanya bertemu seseorang.”
Maya menyilangkan tangan.
“Seseorang yang sama seperti yang datang ke studio waktu itu?”
Arga tersenyum sedikit.
“Iya.”