Ada saat dalam hidup ketika seseorang tidak lagi bisa menunggu. Bukan karena waktu terlalu cepat. Tetapi karena hati sudah terlalu lama diam.
Malam setelah pertemuanku dengan Pak Surya, aku tidak bisa tidur. Kata-katanya terus terngiang di kepalaku.
Dunia tidak selalu memberi kesempatan kedua pada cerita seperti ini.
Aku berbaring lama di kamar kecilku, memandangi langit-langit yang samar diterangi lampu jalan dari luar jendela.
Seharusnya semuanya sudah selesai sejak lama. Aku sudah meninggalkan desa. Arga sudah melanjutkan hidupnya. Namun entah bagaimana, jalan kami kembali bertemu di kota ini. Dan perasaan yang dulu kutahan dengan keras kini berdiri tepat di depanku, menunggu jawaban.
Keesokan sorenya aku mengirim pesan pada Arga.
Bisakah kita bertemu?
Balasan datang hampir seketika.
Selalu bisa.
Kami bertemu di taman kecil yang sama seperti malam sebelumnya. Lampu-lampu taman baru saja menyala ketika aku tiba. Arga sudah duduk di bangku kayu di dekat sungai, menatap air yang mengalir perlahan.
Ketika melihatku, ia berdiri.
“Ada sesuatu yang ingin Ibu katakan?”
Aku menarik napas pelan.
“Arga…”
Ia menunggu.
“Aku sudah terlalu lama menghindari kenyataan.”
Matanya menatapku penuh perhatian. Aku merasakan jantungku berdetak lebih keras.
“Perasaan yang kamu katakan dulu… sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi.”
Kata-kata itu terasa berat ketika keluar dari mulutku. Namun setelah diucapkan, ada sesuatu di dalam diriku yang terasa lebih ringan.
Arga tidak langsung berbicara.
Ia hanya menatapku dengan mata yang perlahan berubah hangat.
“Apa maksud Ibu?”
Aku menunduk sebentar sebelum menjawab.
“Maksudku… aku juga merasakannya.”
Beberapa detik dunia terasa sangat sunyi. Lalu Arga menghembuskan napas panjang, seolah sesuatu yang lama ia tahan akhirnya dilepaskan.
“Saya sudah menunggu kalimat itu sangat lama.”
Aku tersenyum tipis.
“Dan aku berharap kamu tidak pernah mendengarnya.”
Arga tertawa kecil.
“Terlambat.”
Kami berdiri berhadapan di bawah cahaya lampu taman yang lembut. Namun kebahagiaan yang muncul di wajah Arga juga disertai dengan kesadaran yang sama di mataku.
Ini bukan akhir dari masalah.
Ini justru awalnya.
***
Di tempat lain, Maya sedang duduk sendirian di studio desain.
Arga belum kembali sejak sore. Ia menatap layar komputer, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Akhirnya ia membuka ponsel dan melihat foto yang pernah ia ambil diam-diam beberapa minggu lalu.
Foto Arga dan aku berdiri di depan studio.
Ia menatap foto itu lama.
Lalu berbisik pelan,
“Jadi benar.”
Beberapa hari sebelumnya ia sempat mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya pertemanan biasa. Namun semakin lama ia melihat cara Arga berbicara tentangku, semakin jelas sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Dan malam itu ia akhirnya mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia cemburu.