Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #18

Kota yang Tidak Mudah Menerima

Ada kota yang terlihat ramai dan modern. Namun di dalamnya, cara orang menilai hidup orang lain tidak selalu berubah.

Beberapa hari setelah Arga mengatakan rencananya pindah ke Jakarta, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda di sekolah.

Tatapan.

Bisikan.

Percakapan yang tiba-tiba berhenti ketika aku masuk ke ruang guru.

Awalnya aku mencoba mengabaikannya. Namun suatu pagi, ketika aku sedang berjalan menuju kelas, dua siswa di koridor tiba-tiba berhenti berbicara ketika melihatku.

Aku tidak sengaja mendengar potongan kalimat mereka.

“Itu dia.”

“Serius? Dia yang”

Mereka langsung diam ketika aku melewati mereka.

Dadaku terasa sedikit sesak. Aku tahu persis apa yang sedang terjadi.

Cerita itu sudah menyebar.

***

Di ruang guru, suasana juga tidak lagi sama. Beberapa rekan masih bersikap biasa. Namun beberapa yang lain mulai menjaga jarak.

Ketika aku duduk di meja kerjaku, Rina mendekat dengan wajah cemas.

“Kamu sudah dengar?”

“Apa?”

Ia menurunkan suaranya.

“Orang-orang mulai membicarakanmu.”

Aku tersenyum tipis.

“Orang selalu membicarakan sesuatu.”

“Tapi kali ini berbeda.”

Aku menatapnya.

Rina ragu sebentar sebelum berkata,

“Mereka bilang kamu menjalin hubungan dengan mantan muridmu.”

Kalimat itu akhirnya diucapkan dengan jelas.

Aku tidak menjawab.

Namun diamku cukup untuk membuat Rina memahami bahwa kabar itu tidak sepenuhnya salah.

Ia menghela napas pelan.

“Kamu tahu ini bisa menjadi masalah besar, kan?”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

***

Sementara itu, di studio desain, Maya juga tidak tinggal diam. Ia sudah terlalu lama menahan perasaannya. Dan ketika melihat Arga semakin sering pergi untuk menemuiku, sesuatu di dalam dirinya akhirnya pecah.

Suatu sore ia berkata kepada salah satu rekan kerja mereka,

“Kamu tahu perempuan yang sering ditemui Arga?”

“Yang datang ke studio waktu itu?”

Maya mengangguk.

“Dia dulu gurunya.”

Lihat selengkapnya