Ada saat dalam hidup ketika seseorang tidak lagi bisa menunda pilihan. Bukan karena semua jalan sudah jelas. Tetapi karena hati sudah terlalu lelah untuk terus berlari.
Setelah percakapan kami di taman malam itu, aku dan Arga tidak bertemu selama beberapa hari. Hari-hariku di sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah di koridor terasa seperti berjalan di tempat yang penuh bisikan. Beberapa orang masih menyapaku dengan ramah. Namun ada juga yang mulai menatap dengan cara yang berbeda.
Aku mencoba tetap fokus pada kelas.
Pada buku pelajaran.
Pada wajah-wajah siswa yang tidak tahu apa-apa tentang cerita yang sedang berputar di luar ruangan. Namun bahkan di kelas pun aku kadang merasa tatapan itu masih mengikuti.
Sore itu kepala sekolah memanggilku kembali ke ruangannya.
Kali ini tidak ada komite sekolah.
Hanya kami berdua.
Ia duduk di balik meja dengan wajah yang terlihat lebih lelah dari biasanya.
“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?”
Aku mengangguk pelan.
“Karena cerita itu.”
Ia tidak langsung berbicara.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berkata,
“Sekolah ini punya reputasi yang harus dijaga.”
Aku menatapnya tanpa menjawab.
Ia melanjutkan,
“Saya tidak mengatakan bahwa kamu melakukan sesuatu yang salah secara hukum.”
“Tapi?”
“Tapi masyarakat tidak selalu melihatnya seperti itu.”
Kalimat itu terasa seperti keputusan yang sudah lama disiapkan.
“Kami ingin kamu mempertimbangkan satu hal.”
Aku tahu apa yang akan ia katakan bahkan sebelum kalimat itu selesai.
“Mengundurkan diri.”
Ruangan itu terasa sangat sunyi. Namun anehnya, aku tidak merasa marah.
Hanya lelah.
Sangat lelah.
***
Sementara itu, di tempat lain di kota, Arga sedang berdiri di depan kantor perusahaan desain besar yang menawarkan pekerjaan untuknya.
Bangunan itu tinggi dan modern.
Simbol masa depan yang cerah.
Kesempatan yang tidak datang dua kali. Ia menatap pintu kaca gedung itu lama. Di dalam, beberapa orang terlihat sibuk berjalan membawa berkas.
Jika ia masuk ke sana hari ini dan menerima pekerjaan itu, hidupnya mungkin akan berubah.
Karier.
Penghasilan.
Masa depan yang stabil.
Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.