Di Tengah Pandangan yang Menghakimi

Nova Yarnis
Chapter #21

Biasan Kota

Ada kota yang terlihat sibuk dengan urusannya sendiri. Gedung-gedung tinggi berdiri, kendaraan berlalu-lalang, orang berjalan dengan wajah yang seolah tidak peduli pada siapa pun.

Namun kota juga punya ingatan.

Dan kadang, ingatan itu muncul kembali ketika seseorang mulai terlihat terlalu berhasil.

Beberapa tahun setelah keputusan besar yang kami ambil, hidup kami mulai menemukan ritmenya sendiri.

Arga bekerja hampir setiap hari dari pagi hingga malam. Meja kecil di ruang tamu apartemen kami berubah menjadi ruang kerja yang penuh dengan kertas sketsa, penggaris panjang, dan laptop yang hampir tidak pernah dimatikan.

Kadang aku bangun tengah malam dan melihatnya masih duduk di kursi, menatap layar dengan mata lelah tetapi penuh semangat.

“Kamu belum tidur?” tanyaku suatu malam.

Arga menoleh dan tersenyum.

“Sebentar lagi.”

Aku berjalan mendekat dan melihat rancangan bangunan di layar komputernya.

“Proyek baru?”

Ia mengangguk.

“Kompleks perkantoran di pinggir kota.”

Aku tidak benar-benar mengerti banyak tentang arsitektur. Tetapi aku tahu satu hal: setiap kali Arga berbicara tentang pekerjaannya, ada cahaya di matanya yang membuatku merasa bangga sekaligus terharu. Anak yang dulu duduk di bangku kelas kini sedang membangun dunia yang jauh lebih besar.

***

Beberapa minggu kemudian, nama Arga mulai muncul di tempat yang tidak kami duga.

Suatu pagi aku membeli koran di kios dekat rumah. Aku hampir menjatuhkannya ketika melihat sebuah artikel kecil di halaman bisnis. “Arsitek Muda Lokal Menangani Proyek Perkantoran Baru.”

Di bawah judul itu ada foto Arga berdiri di depan maket bangunan.

Aku membacanya dua kali untuk memastikan.

Ketika Arga bangun dari tidur, aku langsung menunjukkan koran itu.

“Lihat ini.”

Ia membaca artikel itu dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Hanya berita kecil.”

“Bagi orang lain mungkin kecil,” kataku.

“Tapi bagiku ini besar.”

Arga tersenyum sedikit. Namun kami tidak tahu bahwa berita kecil itu akan membawa sesuatu yang lain bersamanya.

***

Beberapa hari kemudian, ketika aku sedang berjalan keluar dari toko buku, dua wanita di dekat rak majalah tiba-tiba berbicara cukup keras untuk membuatku mendengarnya.

“Bukankah itu suaminya guru yang dulu jadi bahan gosip itu?”

“Yang katanya menikahi mantan muridnya?”

“Sepertinya.”

Aku berhenti sejenak.

Bukan karena terkejut.

Lihat selengkapnya