Ada kesempatan dalam hidup yang datang seperti cahaya terang. Semua orang melihatnya sebagai keberuntungan. Namun kadang, cahaya itu juga membawa bayangan yang panjang.
Beberapa minggu setelah artikel kecil tentang Arga muncul di koran, kehidupannya berubah lebih cepat dari yang kami duga.
Pagi itu ia pulang lebih awal dari kantor dengan wajah yang terlihat berbeda.
Bukan lelah.
Melainkan tegang sekaligus bersemangat.
“Ada apa?” tanyaku ketika melihatnya berdiri di pintu dengan tas kerja masih di tangan.
Arga tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu duduk di sofa seperti seseorang yang sedang mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
“Aku mendapat tawaran proyek,” katanya akhirnya.
“Proyek apa?”
Arga menatapku.
“Proyek nasional.”
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Serius?”
Ia mengangguk pelan.
“Sebuah kompleks budaya dan pusat seni di ibu kota provinsi.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Arga… itu proyek besar.”
“Ya.”
Ia tersenyum tipis.
“Terlalu besar untuk seseorang yang baru beberapa tahun bekerja.”
Aku melihat sesuatu di matanya yang jarang kulihat sebelumnya.
Bukan hanya semangat.
Tetapi juga ketakutan kecil yang datang bersama peluang besar.
“Siapa yang menawarkan proyek itu?” tanyaku.
Arga menarik napas.
“Seorang investor.”
“Perusahaan?”
“Tidak. Individu.”
Ia mengambil map dari tasnya dan menyerahkannya padaku.
Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen dan kartu nama tebal dengan tulisan emas. Raka Pratama – Direktur Utama Pratama Development
Nama itu terdengar asing bagiku. Namun dari cara Arga memegang map itu, aku tahu orang itu bukan sembarang investor.
“Dia menghubungiku langsung,” kata Arga.
“Setelah membaca artikel kecil di koran itu.”
Aku tersenyum sedikit.
“Jadi artikel kecil itu benar-benar membawa sesuatu.”
Arga mengangguk.
“Tapi ada satu hal yang membuatku ragu.”
“Apa?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Besok aku bertemu dengannya.”
***
Keesokan sore Arga datang ke sebuah restoran besar di pusat kota. Tempat itu terlalu mewah untuk seseorang yang biasanya makan siang di kantin kantor. Ia duduk di meja dekat jendela, menunggu. Beberapa menit kemudian seorang pria datang mendekat. Usianya sekitar lima puluh tahun. Pakaiannya rapi, sikapnya tenang, tetapi ada aura kekuasaan yang terasa jelas di sekelilingnya.
“Anda Arga?”
“Iya, Pak.”
Pria itu tersenyum.