Kota malam itu tampak hening. Lampu-lampu jalan memantulkan cahayanya di aspal basah setelah hujan sore. Aku berdiri di balkon apartemen, memandang jauh ke kejauhan, tetapi hatiku tidak tenang. Arga masuk ke ruangan dengan wajah yang tegang. Biasanya, ia akan tersenyum atau memberi canda kecil untuk meringankan suasana. Namun malam itu berbeda.
“Ada apa?” tanyaku pelan.
Arga menunduk, kemudian duduk di sofa. Tangannya bergetar sedikit saat memegang ponsel.
“Aku… aku tahu siapa yang memberi informasi tentang masa lalu kita kepada Raka,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, namun ada getaran marah yang sulit disembunyikan.
Aku terdiam. “Siapa?”
“Dia… Maya.”
Seketika udara di ruangan terasa berat. Nama itu seperti badai yang kembali menghantam hidup kami. Maya, wanita yang dulu mencintai Arga dan kalah oleh waktu, kini muncul kembali dengan cara yang jauh lebih berbahaya.
Arga menatapku dengan mata yang berkilat. “Dia sengaja mengirim cerita lama kita. Maksudnya… untuk membuat investor ragu.”
Aku merasa darahku mendidih. “Kok bisa? Dia… apa yang dia inginkan?”
Arga menepuk pelan tanganku. “Dia ingin kita gagal. Dalam karier, dalam hubungan, mungkin bahkan dalam hidup kita.”
Aku menelan ludah. Tiba-tiba, semua ketenangan yang kami rasakan selama beberapa bulan terakhir seakan sirna. Semua mimpi tentang kehidupan baru bersama Arga tampak terancam oleh masa lalu yang tidak bisa kami hapus.
***
Keesokan harinya, kabar tentang proyek besar Arga menjadi topik hangat di kantor. Namun nuansanya berbeda dari sebelumnya. Beberapa klien mulai bertanya, ragu melihat keterlibatan istrinya. Beberapa bahkan mengutip kabar lama yang tersebar tentang hubungan guru–murid kami.