Lampu kota berkelip lembut di luar jendela apartemen, tetapi di dalam, udara terasa berat. Hening bukan karena tenang, tetapi karena ada sesuatu yang menekan setiap detak jantung. Aku duduk di kursi ruang tamu, menatap tumpukan dokumen di meja, sementara Arga berdiri di dekat jendela, menatap kota yang seolah menertawakan kami.
“Arga… kamu terlihat tegang,” bisikku pelan.
Ia menghela napas panjang, tangannya meremas gelas kopi tanpa sadar. “Ini lebih dari sekadar proyek. Beberapa klien mulai mempertanyakan keputusan mereka setelah mendengar… cerita lama kita,” katanya. Kata-kata itu meluncur pelan, tetapi setiap suku katanya menusuk seperti pisau.
Aku menunduk, merasakan tekanan batin yang sulit diungkapkan. Ini bukan hanya tentang reputasi Arga, tetapi juga tentang kami. Hubungan yang telah kami perjuangkan selama bertahun-tahun kini diuji di ruang publik. Bahkan sebagian teman sekerjanya mulai bersikap dingin, melihatku dengan tatapan yang samar antara rasa ingin tahu dan penilaian.
***
Hari berikutnya, Arga menghadiri pertemuan penting dengan beberapa investor besar. Aku duduk di rumah, mencoba menenangkan diri, tetapi telepon bergetar tak henti. Setiap pesan dari Arga seakan membawa energi campur aduk: frustrasi, ketegangan, dan sedikit kebanggaan.
Aku tahu satu hal: Maya ada di balik semua ini. Tidak terlihat, tetapi efeknya menghantui setiap langkah Arga. Ia bukan hanya mengirim kabar lama, tetapi mulai memprovokasi orang-orang di sekitarnya, meracuni pendapat mereka secara halus.
Suatu sore, Arga pulang lebih cepat. Wajahnya pucat, matanya memancarkan kemarahan yang dipadukan kelelahan. Ia duduk di sofa, meletakkan tas kerjanya perlahan.
“Mereka… mereka hampir membatalkan proyek,” katanya, suaranya pelan, tetapi penuh rasa sakit.