Malam itu, lampu kota berkelip lembut, tetapi hatiku tidak bisa tenang. Setelah titik balik di konferensi nasional, aku kira badai perlahan reda. Namun kenyataan berkata lain.
Pesan masuk dari Arga membuat dadaku berdegup kencang:
“Ibu… Maya ada di acara amal hari ini. Dia mencoba memprovokasi beberapa kolega dan media lokal.”
Aku menatap layar ponsel, merasakan ketegangan yang familiar. Maya tidak pernah diam. Setiap langkahnya selalu strategis, selalu tepat untuk menimbulkan keraguan atau konflik.
***
Keesokan harinya, kami menghadiri acara perusahaan yang menghadirkan investor dan pejabat lokal. Maya sudah menunggu, senyum tipis di wajahnya, matanya menatap kami seperti panah yang siap melesat. Beberapa kolega Arga tampak gelisah, terjebak di antara profesionalisme dan rasa ingin tahu tentang hubungan kami.
Aku menahan napas. Suasana tegang, setiap langkah Maya terasa seperti ujian langsung terhadap keberanian kami.
Arga menatapku, menggenggam tanganku di bawah meja. “Tetap fokus, Ibu. Jangan biarkan dia memengaruhi kita.”