Gedung konferensi internasional itu berkilau di bawah sinar lampu. Media telah menunggu sejak pagi, kamera siap membidik setiap gerak-gerik. Aku menatap Arga yang berdiri di sisi panggung, jasnya rapi, wajahnya tenang namun matanya menyimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.
Hari ini, Maya menyiapkan serangan publiknya. Ia telah menyebarkan kabar ke media besar: gosip lama kami hubungan guru dan murid dikemas sedemikian rupa agar terdengar kontroversial dan sensasional. Setiap reporter yang hadir membawa pertanyaan tajam, mata mereka menatapku dengan rasa ingin tahu yang mengintimidasi.
***
Saat acara dimulai, suasana langsung tegang. Beberapa peserta berbisik, beberapa media menyiapkan pertanyaan. Aku menelan ludah, menatap Arga yang mengangguk, memberi sinyal untuk tetap tenang.
Maya muncul di tengah kerumunan, menatapku dengan senyum tipis. Ia tidak menyapa, hanya menatap penuh makna seolah berkata, “Hari ini, kau akan jatuh.”
Aku menarik napas dalam-dalam. Semua orang melihat, menilai, menunggu. Tapi aku tahu satu hal: kemampuan profesional dan keberanian kami lebih kuat dari bayangan masa lalu.
Arga maju ke depan mikrofon, menatap semua orang dengan tatapan tegas. “Saya hadir di sini bukan untuk membahas gosip atau masa lalu pribadi. Saya hadir untuk menunjukkan fakta, bukti kerja, dan kompetensi tim saya. Hubungan pribadi kami tidak akan memengaruhi kualitas proyek yang kami jalankan.”
Sorakan kecil terdengar dari sebagian peserta yang mendukung. Beberapa investor mulai tersenyum, menatapku, memberi sinyal bahwa mereka percaya pada profesionalisme kami.