Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Dunia luar mulai menatap kami dengan pandangan baru: pengakuan atas kompetensi, profesionalisme, dan keberanian kami menghadapi serangan publik. Proyek Arga mendapatkan pujian luas, media mulai menulis tentang keberhasilan tim, bukan tentang gosip masa lalu.
Namun, damai ini terasa rapuh. Bayangan Maya masih menyusup, komentar pedas sesekali terdengar, bisik-bisik tentang “guru yang dekat dengan mantan muridnya” tetap ada. Setiap kali aku melihat wajah-wajah baru yang belum mengenal cerita lengkap kami, hatiku sedikit tertekan, tetapi aku belajar menepis rasa takut itu.
***
Di kantor proyek nasional, Arga tersenyum padaku sambil menaruh dokumen di meja. “Kau tahu, Ibu… aku senang kau di sini. Tanpamu, aku tidak akan setenang ini.”
Aku tersenyum, duduk di sebelahnya. “Dan aku senang kau membiarkanku terlibat langsung. Ini bukan hanya tentang proyek, tapi tentang bagaimana kita berdiri bersama, menghadapi dunia.”
Setiap hari kami belajar menyeimbangkan cinta dan tanggung jawab. Hubungan kami mulai matang. Kami tidak lagi terbatas pada status guru-murid; kini, kami pasangan yang sejajar, saling menguatkan, dan saling menghormati profesionalisme masing-masing.