Pagi itu, sinar matahari menembus jendela apartemen dengan lembut. Rasanya damai, hampir sempurna. Namun, teleponku bergetar, memecah ketenangan. Pesan masuk dari seorang klien Arga membuat dadaku menciut:
"Kami mendengar kabar dari pihak ketiga tentang masa lalu Anda berdua. Investor besar mempertanyakan reputasi proyek."
Aku menelan ludah, hati berdebar. Mungkin damai kami terlalu cepat muncul, pikirku.
***
Tak lama kemudian, Arga pulang. Wajahnya terlihat tegang, berbeda dari biasanya yang selalu menenangkan. Ia menatapku, lalu menarik napas panjang.
“Ibu… Maya telah melakukan sesuatu yang tidak kuantisipasi,” katanya pelan.
Aku menatapnya. “Apa maksudmu?”
Ia duduk di sofa, menggenggam tanganku erat. “Dia menghubungi beberapa klien utama, menyebarkan informasi yang disensor agar terdengar seolah ada konflik etika. Mereka mulai mempertanyakan kita, bahkan proyek yang sudah terbukti sukses pun kini diragukan.”