Setelah pengakuan publik, hidup kami perlahan menemukan ritme baru. Tidak ada lagi tatapan sinis atau bisik-bisik yang menyakitkan. Kota mulai menerima kami, masyarakat mulai menghormati keberanian dan profesionalisme yang kami tunjukkan, dan media menyorot kami sebagai contoh pasangan yang berhasil memadukan cinta dan karier.
Namun damai ini bukan tanpa tantangan. Beberapa mantan rekan kerja Arga dan orang-orang yang masih menyimpan iri hati mencoba menimbulkan ketegangan kecil mengomentari masa lalu, menyinggung kecemburuan lama.
Aku menarik napas panjang, menatap Arga. “Kadang terasa… seperti kita belum sepenuhnya bebas, ya?”
Ia tersenyum hangat, menggenggam tanganku. “Damai ini memang rapuh di awal, Ibu. Tapi lihatlah… kita mampu menghadapinya. Semua gangguan kecil itu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang sudah kita lalui.”