Di Tepi Telaga

Marlina Permatasari
Chapter #1

Riak Pertama #1

Semua hal yang belum selesai, akan mencari cara untuk menuntaskannya...

Aku menutup novel setelah membaca kalimat terakhirnya. Tubuhku mendorong pintu ruang kerja, lalu kugeletakkan novel itu di meja, bersebalahan dengan tumpukan map biru. Dua jam lagi, rapat.

“Say, dua jam lagi rapat!” Kata Berry mengingatkanku. Orang paling cerewet, kurus, tapi modis itu adalah asistanku. Dia sering masuk ke ruanganku tanpa permisi. Dia adalah karyawan titipan Ibu. Aku menyukainya sekaligus tidak. Dia mengomentari semua hal di kantor.

Introvert sepertiku hanya bisa mengangguk daripada berdebat dengannya.

“Mm,” kataku menuju lemari es mini.

Berry mendahuluiku, mengambil sekotak jus di lemari es, lalu memberikannya padaku, “Tadi pagi udah kopi. Minum ini. Tidur sejam di sofa itu. Oke?”

Aku tergelak kecil. Lalu mengangguk. “Oke.”

Masih dua jam. Masih ada waktu untuk istirahat.

Seminggu ini kantor sangat sibuk karena menangani pernikahan anak pejabat selama tiga malam. Bukan hanya aku, hampir seisi kantor juga kelelahan.

Mataku menyerah. Terlelap dalam takdir yang entah membawaku ke mana.

Seperti pertama kali aku bermimpi setelah Mama membacakan sebuah dongeng. Kira-kira usia sebelas tahun, dongeng itu berhenti-karena aku mulai mempertanyakan, apa semua wanita akan dijemput pangeran berkuda putih?.

Mama tidak menjawab. Dia menyudahi kegiatan sebelum tidur itu.

Seiring waktu, aku menyadari, dongeng tentang pangeran kuda putih yang menjemput seorang gadis untuk diberi kebahagiaan itu, adalah racun.

Dunia ini memang banyak yang tampan. Tapi yang benar-benar memberikan kebahagiaan, sulit ditemukan. Aku pun mulai memahami bahwa, kalimat akhir di setiap dongeng—“...dan mereka hidup bahagia selamanya”—juga racun.

Aku tidak tahu sejak kapan aku berhenti percaya pada pangeran. Mungkin sejak Mama tak lagi membacakan dongeng.

“Woah...” aku menggeliat.

Setelah hampir dua jam tertidur, aku tetap tidak merasa lebih baik. Seharusnya aku meliburkan kantorku selama dua atau tiga hari. Tapi kami harus segera menata ulang keuangan, jadi semua klien yang masuk, tetap diterima.

Aku meraih tumpukan map paling atas yang sudah diurutkan Berry, lalu melesat ke ruang meeting karena dia sudah mengirim pesan : klien sudah diruang meeting.

Tidak ada yang aneh—kecuali rambutku yang sedikit berantakan dan kakiku yang memakai sandal jepit. Meski aku sudah menduga, klien akan mengernyit saat melihatku yang seperti ayam kesengat.

Tapi Berry, Bita, dan Bas akan menatap klien sambil mengangkat bahu dan berkata, “Dia creative manager sekligus bos kami.” Itu kalimat Bas.

“Meski otaknya memang sedikit gesrek,” Bita akan menimpali.

Gadis gendut itu terkadang membuatku harus melempar pensil setiap kali memberiku julukan buruk.

“Tolong, percayakan pada kami. Semuanya akan aman. Acara pernikahan kalian akan sukses.” Berry mengerjab, mengangguk, meyakinkan klien.

Kantor kami bukan event organizer biasa. Kami tidak menerima seminar, ulang tahu, atau konser kecil. Kami hanya mengurusi pernikahan. Karena bagi kami, pernikahan bukan sekadar acara satu hari. Tapi peristiwa yang akan diceritakan seumur hidup. Kami memikirkan segalanya. Konsep kedatangan tamu.aroma yang menyambut di pintu. Nada musik saat pengantin berjalan. Fotografer mana yang mampu menangkap air mata tanpa mengganggu.dekorasi yang bukan hanya indah, tapi bermakna untuk klien

Karena itu kami memilih fokus.

Lihat selengkapnya