Pintu terbuka.
Senja hari itu membuatku sedikit silau. Jemariku mencoba mencengkeram sesuatu, tetapi terlalu lemah. Aku menghela napas berat yang hampir tidak terdengar.
“Hai, kalian sudah datang,” Berry menyapa sepasang klien yang baru saja masuk.
Perempuan berwajah manis dengan dress berumbai itu menyapa Berry dengan senyum cerah. Mereka tampak akrab. Beberapa kali kudengar saling bertukar kabar.
“Mereka klien specialku,” kata Berry. “Ini Embun, temanku. Dan dia penulis yang novelnya sering kamu baca.”
Aku kenal perempuan itu. Aku juga kenal laki-laki yang bersamanya.
“Hai,” aku menjabat tangan Embun. “Aku salah satu readers... setiamu.”
Suaraku sedikit terpatah. Napasku tak beraturan.
“Wah, kamu gugup ketemu dia?” Berry meledek.
Aku mencoba menggelak sehingga Embun juga tertawa kecil.
“Berry pernah cerita tentangmu. Karena itu suatu kehormatan jika acara weddingku bisa di-handle oleh readerku.”
Aku mencoba tersenyum. “Iya.”
“Oh, iya, ini calon suamiku.”
Lalu aku menoleh ke arah laki-laki yang sejak tadi menatapku. Jantungku berdetak cepat saat menyadari bahwa merekalah yang akan menikah.
Embun menarik laki-laki itu. “Namanya Telaga.”
Waktu seperti berhenti sejenak. Dunia seakan menyusut hanya pada satu nama itu.
Jemariku gemetar. Saat Telaga menyodorkan tangan, aku segera menjabatnya agar tidak kentara. Suasana sedikit canggung. Telaga hanya diam. Tanpa senyum.
“Dia memang kayak gitu. Sering diam. Sok cool.” Embun meledeksambil menatap Telaga, membuat laki-laki itu akhirnya tersenyum tipis.
“Tapi sebentar lagi kantor kita tutup,” kataku. “Memangnya kita ada jadwal meeting?” Aku menoleh ke arah Berry.
“Ah, mereka kebetulan sedang ke Jogja, jadi mampir.”