Napasku menghela berat.
Ruang meeting terasa mencekam saat Bas melaporkan bahwa Sarah—desainer yang selama ini bekerja sama dengan kami—kabur ke luar negeri. Lima belas gaun pengantin tidak ada kabarnya.
Bas menjelaskan jika dia sudah melaporkannya ke pihak berwajib. Tapi bukan itu yang paling mendesak sekarang. Ada dua acara pernikahan terdekat yang membutuhkan gaunnya.
“Berapa kerugian kita?” suaraku terdengar terengah, menahan marah.
“Hampir seratus,” jawab Bita.
Aku menyibak rambut sambil mengembuskan napas lewat mulut. Rasa marah dan takut mengaduk isi kepalaku.
Aku mulai menekan setiap kata.
“Ada berapa gaun yang harus selesai dalam tiga bulan ini?”
“Ah, shit!” Bas melenguh kesal sambil menatap ponselnya. “Bukan cuma kita korbannya. Kampret ini orang.”
Aku menopang kepala dengan kedua tangan.
“Hoaahhhh....”
Tok! Tok! Tok!
Berry masuk tergesa. “Dua gaun untuk acara terdekat, aku sudah dapat desainernya.” Napasnya terengah saat menyodorkan tablet ke arahku. “Danastri. Dia lagi di Jakarta sekarang.”
“Berr?” Aku mengernyit.
“Aku tahu keuangan kita lagi tipis,” katanya cepat. “Tapi cuma Danastri yang bisa ngerjain dalam waktu sesingkat ini.”
Aku mengembuskan napas panjang.
“Aku mengobrak-abrik kantornya Sarah, tapi ternyata dia nggak ngerjain satu gaun pun.” Berry menambahkan.
Bas mengumpat.
“Karena itu aku mengirim proposal kita ke Danastri.”
“Gimana dengan desainnya?” tanyaku.
“Seminggu tenggatnya,” jawab Berry pelan. “Karena itu... kita harus bayar lebih mahal.”
Aku menatap Berry tajam.
Berry menggeleng hati-hati. “Nggak ada cara lain.”
Aku tidak setuju dengan idenya. Danastri adalah perancang gaun pengantin dengan jam terbang tinggi. Memaksakan proyek mendadak ke dia sama saja bunuh diri—baik untuk reputasi kami maupun untuk keuangan.