Di Ujung Garis Batas

Ayuningti
Chapter #1

Bab 1: Permintaan Yang Tak Bisa Ditolak

LEA menyeret kakinya menyusuri lorong putih itu. Orang-orang yang berlalu terlihat bagai siluet kabur dari ujung matanya. Kepalanya berisik, tapi telingannya tidak bisa mendengar apa pun saat ini, padahal saat itu rumah sakit tengah penuh sesak. Aroma antiseptik langsung menusuk hidungnya, membuatnya mengernyit tanpa sadar. Tiga tahun ia terus mencium bau itu, tapi tetap tidak bisa terbiasa, aromanya selalu terasa mencekik.

Ketika sampai, seorang wanita paruh baya langsung menghambur ke arahnya, Bibi Mera membungkus Lea dalam pelukannya, “Bagaimana dengan ibu, Bi?” tanya Lea parau,

Tidak ada jawaban dari Bibi Mera, ia hanya mengeratkan pelukannya, memberikan sedikit kehangatan untuk membantu Lea tenang. Tak jauh dari sana, Paman Arman berdiri dengan tubuh yang disandarkan ke tembok di samping pintu yang tertutup. Di baliknya, ibu Lea kini terbaring, separuh dunia Lea sedang diperjuangkan.

Tak lama, pintu itu terbuka, seorang pria paruh baya dengan kumis tipis keluar dengan kerutan dalam di keningnya. Tampak peluh membasahi wajahnya, matanya gelap, tidak seperti tiga tahun yang lalu, ketika mata itu masih berbinar dengan harapan, menjanjikan kesembuhan bagi ibu Lea. Kini mata itu menatap Lea dengan sorot menyerah.

Bibir Lea kelu, ia ingin menanyakan keadaan ibunya, tapi keberaniannya menciut, hatinya tidak siap jika jawaban yang keluar sama dengan suara-suara berisik dalam kepalanya. Meski jauh di lubuk hatinya, Lea tahu wanita hebat di dalam telah berjuang untuk bertahan hanya untuk dirinya, berusaha sekuat tenaga untuk bersama Lea meski untuk sehari lebih lama. Tapi sepertinya waktu tidak bisa lagi menunggu.

Berkali-kali dokternya bahkan mengatakan agar Lea mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, tapi betapa pun ia mencoba, ia tidak pernah siap.

“Bagaimana dok?” tanya Paman Arman akhirnya,

Dokter Rama menatap mereka bergantian, sebelum akhirnya tatapannya tertuju lurus ke mata Lea. Kerutan di wajahnya rasanya lebih dalam dibanding terakhir kali mereka bertemu. Matanya terlihat sayu, jelas sekali kelelahan tergambar di wajahnya. Dan lagi-lagi mata itu menatap Lea menyesal, hanya tatapan, tapi Lea mengerti apa maksudnya. Karena ketika kata tak lagi bisa menjelaskan, mata tidak pernah bisa menyembunyikan kebenaran.

Sebuah gelengan pelan dan helaan napas berat membenarkan segalanya.

Penjelasan tanpa kata itu memadamkan api terakhir dari harapan yang Lea punya. Perlahan air matanya menggenang, diiringi dengan jantungnya yang teremas menyakitkan, kuatlah Lea, bisiknya memohon pada dirinya sendiri. Jika ini memang yang terakhir, ia ingin membiarkan ibunya pergi dengan tenang, bukan dengan kekhawatiran karena melihatnya runtuh seperti ini.

Lea berjongkok, memeluk dirinya sendiri dan mulai menangis di sana. Berikan waktu beberapa menit untuknya, biarkan airmata itu mengalir dengan bebas saat ini, sebab ketika raganya masuk ke ruangan itu, hanya ada senyuman yang boleh ada di wajahnya, tidak ada lagi airmata.

*** 

Saat Lea masuk ke ruangan, bunyi monitor jantung ibunya yang berdetak perlahan menjadi satu-satunya suara dalam ruangan hening itu. Meski terdengar tidak terlalu stabil, suara itu satu-satunya hal yang membuat Lea yakin, dunianya masih baik-baik saja.  

Lihat selengkapnya