"APA yang kau lakukan sebenarnya, Kak?"
Mereka berdua berdiri di depan pintu tangga darurat, Lea yang menarik laki-laki itu ke sini,
"Aku tidak sanggup menolaknya, Lea." Jawabnya dengan senyum pasrah. Lea tau betul betapa lembutnya hati Irham, terlebih pada ibunya dan juga ibu Lea, "Tapi pernikahan bukan permainan. Bagaimana dengan Ara?"
Irham terdiam mendengar Lea mengatakan nama itu, Lea bahkan bisa melihat mata Irham bergetar ketika nama itu keluar dari bibirnya. Lea tau bahwa selama ini hati Irham telah bertaut pada seorang wanita, dan itu bukan dirinya, Lea juga tau selama ini Irham hanya menganggapnya seperti adiknya sendiri. Oleh karena itu ia agak sedikit marah ketika Irham mengiyakan permintaan ibunya,
Irham terlihat ragu di sana, matanya menerawang bingung, kosong, Lea tau ia mencoba yang terbaik untuk tidak melukai dan memberikan ketenangan pada ibu Lea, dan Lea berterima kasih dengan itu. Tapi mengorbankan masa depannya sendiri? Bagaimana bisa Lea menerimanya?
Lea mengembuskan napasnya, “Aku akan bicara pada ibu, Kak.” Katanya kemudian,
Laki-laki di hadapannya melihatnya dengan tatapan bersalah, tapi akhirnya mengangguk pelan, “Baiklah, maafkan aku.” Bisiknya kemudian,
Keduanya akan kembali ke ruangan ibu Lea saat beberapa langkah kaki terdengar mendekat. Di depannya Lea melihat dokter Rama dan dua suster yang menghambur cepat masuk ke kamar yang sedang mereka tuju. Jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, paru-parunya seolah tak berfungsi dengan baik karena saat ini udara tidak bisa masuk ke tubuhnya. Untuk sesaat Lea merasakan kesadarannya seolah ditarik paksa dari tubuhnya.
Tapi kakinya akhirnya mampu melangkah dengan cepat, beberapa kali keseimbangannya hampir hilang, dan saat Lea akhirnya kembali ke dalam ruangan itu, ranjang ibunya telah dipenuhi oleh orang-orang yang tadi berlari. Lea tidak tau apa yang terjadi atau apa yang dokter lakukan di sana, satu hal yang ia tau, sekali lagi, dokter sedang mencoba untuk membantu ibunya untuk tetap bertahan.