PERNIKAHAN diatur secara sederhana keesokan harinya, di ruangan rawat inap ibunya yang terbatas. Hanya ada beberapa orang di sana, cukup untuk memenuhi syarat sah pernikahan, tidak ada persiapan khusus apa pun karena dilakukan di rumah sakit.
Tapi tetap saja, akad nikah selalu menjadi sesuatu yang sakral, ketika akad diucapkan maka terjadi perpindahan kewajiban atas seorang wanita dari ayahnya ke suaminya. Ketika pintu-pintu surga dibuka dan diturunkan rahmat di tempat itu. Saat ketika surga seorang wanita tidak lagi terletak di kaki ibunya, tapi berpindah ke suaminya, meski hanya satu kalimat pendek, keindahannya bahkan terasa hingga meresap ke hati. Tapi tidak hati Lea saat itu, apakah segalanya berlaku juga baginya? Pernikahan ini hanya untuk menunaikan permintaan ibunya semata, hanya sebuah hubungan yang bahkan tak didasari oleh hati siapa pun, hubungan yang bahkan telah ia janjikan akan segera berakhir jika ibunya telah tiada.
"Saya terima nikahnya Azalea Kirana Putri binti Rizal Ariyadi dengan mas kawin emas 20 gr dibayar tunai."
"Sah."
Bukan tawa bahagia yang terdengar di sana, tapi isak tangis yang tertahan, air mata ibu Lea dan Bibi Mera sudah mengalir sejak tadi. Lea masih bertahan sendirian, matanya sudah basah tapi air matanya tidak ia biarkan mengalir.
Doa-doa di lantunkan setelah akad terucap, melantun indah meski tidak terdengar lantang, doa terbaik yang di lantunkan bagi mereka yang akan memulai hidupnya yang baru, di aminkan setiap orang yang hadir saat itu.
Setelah doa selesai dibacakan, pemberian mahar dilakukan, Irham memasangkan cincin di jari manis Lea, cincin yang di pasangkan di jari Lea terlihat sederhana tapi terlihat manis. Irham sendiri tidak mengenakan cincin karena dalam kepercayaan mereka laki-laki tidak boleh mengenakan cincin emas. Setelah cincin dipakaikan, ragu-ragu Lea mengambil tangan suaminya itu, untuk pertama kalinya, ia menggenggam tangan seorang laki-laki selain ayahnya, tangan yang besarnya hampir dua kali lipat tangan Lea itu segera menenggelamkan tangan Lea di sana, Lea kemudian mengecup punggung tangannya. Setelah Lea melepaskan tangan Irham, Irham meletakkan tangannya sendiri di kepala Lea,