Di Ujung Garis Batas

Ayuningti
Chapter #4

Bab 4: Gadis Itu Di Matanya

LEA terbangun di ruangan gelap, kepalanya masih terasa sakit, bahkan matanya masih bengkak, tapi lagi-lagi air matanya jatuh tanpa perintah. Ia tau cepat atau lambat hal ini akan terjadi, Tuhan pun telah memberikan cukup banyak waktu baginya untuk mempersiapkan segalanya. Namun ketika hal ini terjadi, rasanya tetap menyakitkan. Kepalanya kosong, seolah jalan di hadapannya hanya kegelapan tanpa cahaya atau petunjuk apa pun, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Kamarnya gelap gulita, sejak ia kembali ke kamarnya setelah pemakaman ibunya, ia belum beranjak dari kasurnya. Rasa sakit dari lubang hitam di hatinya terasa terlalu menyesakan, membuatnya tak bisa melakukan apa pun kecuali terdiam di sana. Air mata masih terus jatuh dari pelupuknya, banyak sekali suara di kepalanya, tapi rasanya kosong, ia bahkan tidak mengerti apa yang ia pikirkan, ia hanya mampu merasakan jantungnya berkali-kali teremas ketika kesadarannya pulih kemudian ia kembali menangis lagi.

***

Hampir jam 7 malam saat akhirnya Irham masuk ke kamar Lea, gadis itu telah mengurung dirinya sejak mereka pulang dari pemakaman. Ruangan itu gelap, tidak ada tanda pergerakan apa pun seolah tak ada orang di dalam. Tapi setelah matanya beradaptasi, Irham bisa melihat gadis itu duduk terdiam di kasurnya, ia melipat kakinya ke dada, tangannya memeluk kedua kakinya, sedangkan kepalanya ia sandarkan ke lututnya. Irham sengaja tidak menyalakan lampu kamar Lea, ia hanya membiarkan pintu kamar itu terbuka, hingga sinar lampu dari ruangan depan mampu masuk sedikit dan memberikan cahaya yang cukup untuk melihat keadaannya.

Tidak ada suara, apakah Lea tertidur?

Irham berjalan mendekat, kemudian duduk di depannya, tangannya terulur ragu, tapi akhirnya berhasil menyentuhnya perlahan. Gadis itu adalah seseorang yang berharga baginya, sejak kecil mereka tumbuh bersama, baginya Lea sudah seperti keluarganya sendiri, bukan orang lain, begitu pun dengan ibu dan ayah Lea. Karena itu ketika ibu Lea melihat Irham dengan matanya, memohon, ia tidak sanggup menolaknya.

Irham bukan orang yang begitu baik hingga mengabulkan semua permintaan orang lain dengan suka cita, tapi begitu yang terlibat adalah keluarganya, ia tidak bisa mengabaikannya. Mereka adalah bagian terpenting dari hidupnya, dan lebih dari pada itu, ia juga merasakan hal yang sama, ia mengerti mengapa bibinya memohon hal itu kepadanya. Sejak awal Lea adalah orang yang begitu terikat oleh kedua orang tuanya, bahkan saat ayahnya dulu berpulang, Irham masih ingat betul bagaimana hancurnya hidup Lea, maka dari itu, saat bibinya memohon padanya untuk menikahi Lea, ia mengangguk setuju.

Saat bibinya pergi, gadis itu mungkin tidak akan menunjukkan langsung kepadanya, tapi ia tau, sekali lagi, dunia Lea runtuh, dan jika menikahi Irham bisa membantu Lea setidaknya mendapatkan satu pegangan baru dalam hidupnya, Irham bersedia berada di posisi itu.

Lihat selengkapnya