SINAR matahari masuk menembus tirai hijau yang menutup jendela kamar Lea, membuat matanya sedikit silau dengan pantulannya. Ia sedikit tersentak ketika mendapati hari telah terang, matahari bahkan telah terasa terik. Lea bangun dengan tergesa, ia terlambat. Kakinya baru akan turun dari tempat tidurnya untuk membawanya ke kamar mandi saat satu kenyataan menyadarkannya. Ia tidak terlambat kemana pun, sebab sudah tidak ada lagi tempat yang harus ia tuju setiap pagi, hatinya mencelos, kenyataan dengan kasar masuk ke kesadarannya. Tidak ada lagi kunjungan ke rumah sakit, tidak ada lagi persiapan pekerjaan yang harus ia bawa ke rumah sakit setiap hari agar pekerjaannya selesai dan ia tetap bisa menemani ibunya, ibunya telah pergi, ia tidak punya siapa pun lagi.
Kesadaran itu membuatnya terdiam, kembali duduk di ujung tempat tidurnya, hatinya kosong, begitu pun pikirannya, ia hanya terdiam di sana, terduduk membatu. Otaknya bahkan tidak bisa bekerja dengan baik, untuk sekadar menjawab pertanyaan harus apa ia setelah ini saja ia tidak bisa.
Lea menarik napas panjang, menyingkirkan setiap ganjalan dalam ruang hirupnya yang menyesakkan.
Kakinya mulai melangkah keluar dari kamarnya, menatap rumahnya yang entah mengapa terasa begitu besar, kekosongannya terasa begitu nyata. Padahal selama ini ia telah terbiasa tinggal sendiri di rumah itu, karena ibunya harus terus berada di rumah sakit. Tapi ia tidak menyangka perbedaannya akan sejauh ini. Ia masih berada di rumah yang sama, masih sendirian tanpa siapa pun, tapi kenyataan bahwa ibunya telah tiada bahkan meninggalkan ruangan kosong, hampa, di rumah ini. Seolah sebagian kehangatannya terenggut, seolah kehidupan diambil paksa darinya.
Pintu depan rumahnya terbuka saat Lea masih terhanyut dalam pikirannya, sesosok laki-laki berkaus hitam masuk, kemudian mendekat ketika menyadari keberadaan Lea di sana.
Satu kenyataan lagi yang masuk dalam kesadarannya, laki-laki yang saat ini berjalan ke arahnya adalah suaminya.
Lea ingat semalam kak Irham juga datang untuk mengecek keadaannya. Lea saat itu hanya tertunduk menyandarkan kepalanya yang berat di lututnya, air matanya sudah mengering, hanya tersisa bekas tangisan di pipinya.
Ia merasakan kepalanya disentuh, sentuhan hangat yang membuatnya tersentak, tapi melihat sosok itu di hadapannya membuat hatinya kembali tenang. Ia ingat bagaimana kakunya senyuman yang coba ia tampilkan, ia hanya tidak ingin terlihat begitu hancur, orang lain tidak perlu tau. Meskipun kak Irham adalah orang yang bisa dibilang bagaikan saudaranya sendiri, tapi tetap saja, ia orang asing. Walau kenyataannya orang yang disebut orang asing olehnya itu telah menjadi suaminya kemarin, tapi itu hanya hubungan perjanjian, tidak kurang dan tidak lebih. Dan perjanjian itu bahkan seharusnya sudah tidak berlaku sekarang, ibunya telah pergi, maka tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk berada dalam hubungan ini, itu yang Lea pikirkan.
***
"Hei." Sapa Irham lembut, suaranya memang enak untuk didengar, jenis suara lembut yang menyenangkan, ia tersenyum menyapa Lea
Lea balik menyapa sebelum menyadari laki-laki itu membawa sesuatu di tangannya, yang dipandangi mengikuti arah pandang Lea kemudian mengangkat bungkusan di tangannya, "Ayo sarapan." Ucapnya,