Di Ujung Garis Batas

Ayuningti
Chapter #6

BAB 6: Lea

IRHAM melangkah masuk ke rumah yang sejak kemarin ia tempati. Setelah Lea setuju untuk mengundur batas akhir perjanjian mereka, Irham akhirnya pindah ke rumah Lea. Meski rumah orang tuanya sendiri ada di sebelah rumah ini, tapi Lea bilang ia tidak ingin tinggal bersama Irham dan orang tuanya di rumah sebelah, ia lebih nyaman di rumahnya sendiri, terlebih tidak ada lagi yang menempati rumah ini.

Irham sebenarnya lebih suka Lea pindah untuk tinggal bersama dengannya dan orang tuanya, setidaknya ada ibunya yang tetap di rumah dan bisa menjaga juga memperhatikan Lea. Tapi ia tidak ingin membuat gadis itu tidak nyaman, mungkin butuh waktu bagi Lea untuk dapat berinteraksi dengan banyak orang, ia masih butuh waktu untuk sendirian.

Jadi Irhamlah yang sekarang pindah ke rumah ini. Tidak mungkin mereka tetap tinggal di rumah masing-masing, status mereka di mata orang lain adalah suami istri, akan sangat aneh jika Irham tetap tinggal di rumahnya dan meninggalkan istrinya sendirian tinggal di rumahnya sendiri.

Rumah Lea tidak terlalu besar, tapi rumahnya selalu rapi dan ditata dengan hangat. Ada kebun yang cukup luas di belakang rumahnya, Irham ingat bahwa ibu Lea suka berkebun. Dulu saat keduanya masih kecil, orang tua Lea dan Irham serta mereka berdua suka bersantai bersama di kebun belakang, menikmati malam sambil membakar ubi atau jagung. Bahkan hal itu sempat menjadi agenda rutin mereka di malam-malam tertentu. Tinggal di rumah ini membawa kembali kenangan-kenangan indah akan masa kecilnya dan Lea.

Irham membawa sebungkus nasi goreng dan kwetiau goreng di tangannya, meletakkannya di meja makan sebelum mencari keberadaan Lea. Irham menemukan sosoknya di sana, duduk di bangku taman tempat agenda bakar-bakaran rutin mereka dilakukan. Taman itu tidak terlihat sama, dalam ingatan Irham dulu ada lebih banyak bunga yang ditanam dibanding sekarang. Kini taman itu didominasi dengan tumbuhan seperti cabai, tomat juga beberapa pohon buah, menggantikan bunga-bunga yang dulu tumbuh indah.

Kakinya melangkah mendekati sosok gadis yang duduk tanpa melakukan apa pun di sana. Matanya hanya memandang kosong, bahkan gadis itu tidak menyadari kedatangan Irham di sampingnya, wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang sampai Irham tidak tau apa yang sedang ia pikirkan. Lea biasanya lebih mudah dibaca, meski ekspresinya kadang dengan sempurna ia sembunyikan, tapi sikap dan kata-katanya dapat dengan jelas Irham pahami kemana arah pikirnya. Tapi saat ini ketika gadis itu tidak sering bicara, Irham tidak tau apa yang ia pikirkan.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Irham berdeham dan melihat Lea sedikit tersentak di tempatnya sebelum berbalik dan mendapati Irham telah berdiri di sampingnya. “Kau sudah pulang, Kak?” Tanyanya kemudian, ia mencoba menampilkan senyum kecil yang masih terasa dipaksakan,

“Hmm, kau sudah makan?”

“Sudah,” Bohong, Irham bahkan masih melihat bungkusan sarapan yang dibelikannya tadi pagi sebelum pergi bekerja. Bungkusannya masih sama seperti saat ia meninggalkannya, tidak tersentuh. Tapi ia tidak akan mendebatnya untuk itu, Irham hanya pura-pura tersenyum kecewa, “Aku sudah membawa nasi goreng kesukaanmu, temani aku makan.” Katanya kemudian,

Lea menatapnya sebentar sebelum menarik napasnya panjang, “Baiklah.” Katanya akhirnya, sebelum mulai bangkit berdiri dan mengikuti Irham yang berjalan lebih dulu ke meja makan, tempat ia meletakkan nasi gorengnya tadi.

Tangan Irham mengambil bungkusan sarapan yang ia beli tadi pagi, kemudian membuangnya ke tong sampah tanpa Lea sadari. Tangannya kemudian meraih satu sendok untuk Lea dan satu garpu untuknya sendiri.

Lihat selengkapnya