MOBIL yang melaju cepat memberikan gambaran yang saling berkejaran di depan jendela, kepalanya Lea sandarkan ke jendela mobil di samping kanannya. Ia duduk di kursi tengah bersama Bibi Mera, sedangkan Paman Arman duduk di sebelah Irham yang mengemudikan mobil. Mereka akan mengunjungi rumah nenek Irham, setelah berpikir cukup lama ditambah dengan Irham yang terus membujuk Lea untuk ikut bersama mereka, akhirnya Lea ada di sini, menyerah dan memutuskan untuk ikut bersama mereka.
Seminggu terakhir adalah waktu yang cukup bagi Lea untuk menata kembali pikirannya. Setidaknya sekarang ia sudah merasa lebih baik, tidak ada lagi mimpi buruk yang memaksanya bangun dengan napas tercekat. Kekosongan di hatinya pun perlahan mulai tak terasa terlalu menakutkan, sebagian besar adalah karena Irham yang jarang membiarkannya sendirian. Meski Lea sendirian saat Irham pergi bekerja, tapi sepulang kerja Irham terus ada di sana, menanyakan hal-hal remeh hanya untuk membuat Lea membuka mulutnya, menceritakan hal yang terjadi padanya hari itu kepada Lea seakan ia sedang membuat laporan harian. laki-laki itu memang kadang bisa jadi sangat cerewet, ia suka menceritakan apa pun pada Lea, itu juga yang membuat Lea tau ceritanya dengan Ara.
Awalnya Lea tidak menanggapinya, Lea hanya menemaninya makan malam yang terus ia bawa setiap hari. Makanan-makanan yang Irham yakin Lea sukai, walaupun kenyataannya seleranya telah banyak berubah sejak mereka tak lagi sedekat dulu, tapi Lea tidak mengeluh, ia memakan semuanya dengan patuh.
Awalnya ceritanya bahkan tidak bisa diproses dengan benar di kepala Lea, Lea hanya mendengarkan, sambil memberikan reaksi umum sesekali seperti, “Oh,” “Benarkah,” “Sungguh?”. Tapi perlahan Lea mulai menikmati setiap celotehnya. Suaranya yang bercerita menariknya dari hatinya yang kosong dan kesepian, seolah ia masuk secara paksa dan membawa Lea ke sudut hatinya yang lain, tempat di mana tanpa sadar kegelapan tak lagi terasa terlalu menggigit, tempat di mana perlahan Lea mulai kembali menemukan tempat dan hidupnya, meski hanya sedikit.
***
Rumah neneknya masih sama seperti yang diingat Irham, sebuah rumah kayu yang tampak nyaman dan hangat. Ada taman yang cukup luas yang memisahkan gerbang luar dari rumah itu, sehingga tidak terdengar hiruk pikuk jalan raya yang sebenarnya tak jauh dari gerbang.
Rumah itu cukup besar, mengingat neneknya memiliki tiga anak yang masing-masing bahkan sudah punya anak lagi, dan masing-masing dari mereka memiliki kamar sendiri, termasuk Irham.
Belum banyak saudara yang datang, nenek pun sedang tidur di kamarnya jadi tak ada adegan penyambutan dari saudara-saudara. Hanya ada Bibi Asih yang membukakan pintu dan menyapa sopan. Bibi Asih adalah orang yang telah lama ikut bersama nenek, usianya tidak muda, tapi tidak setua nenek, mereka seolah menjadi teman hidup bersama di masa tua masing-masing setelah kedua suami mereka telah berpulang.
Irham langsung mengarahkan Lea ke lantai atas, tempat di mana kamarnya dan kamar orang tuanya berada. Keempatnya berpisah di depan dua kamar yang bersampingan, ayah dan ibu Irham masuk ke kamar mereka, sedangkan Irham menuntun Lea masuk ke kamarnya sendiri. Ketika keduanya berada di ruangan tertutup itu, kesadaran baru masuk di kepala Irham. Ia melihat Lea dengan wajah cemasnya, ragu, sebelum akhirnya wajahnya juga menampakkan hal yang sama, apakah mereka akan berbagi kamar?
Irham bahkan tidak memikirkan ini sebelumnya, ia menuntun Lea seolah itu adalah hal paling normal yang ia lakukan, dan kenyataannya seharusnya itu memang normal mengingat apa status mereka saat ini. Tapi setelah kesadaran penuh masuk ke kepalanya, tentu saja ini tidak normal bagi mereka, mereka bukan pasangan sungguhan. Meskipun tinggal di satu rumah, kamar mereka tetap terpisah, tapi saat ini, akan menjadi hal yang aneh jika mereka berada di kamar terpisah. Di rumah mungkin bisa, tapi semua orang di sini hanya tau bahwa mereka telah menjadi suami istri, tanpa tau apa pun tentang perjanjian diantara keduanya.
Irham memandang sekeliling, ia mencari apa pun untuk keluar dari situasi ini. Ia tidak mungkin tidur di kasur yang sama dengan Lea, ataukah ia tidur di lantai saja? Tapi Lea mungkin akan merasa tidak nyaman karena harus membiarkan Irham tidur di lantai.