Di Ujung Garis Batas

Ayuningti
Chapter #8

BAB 8: Mimpi Buruk

LEA mencoba mengatur napasnya yang masih tak teratur, wajahnya ia sembunyikan di balik selimut. Beberapa kali ia menelan ludahnya yang rasanya tak habis-habis. Ia mencoba mengatur irama jantungnya yang berdetak begitu keras, saat akhirnya keadaannya membaik, ia baru menyadari Kak Irham masih ada di sana. Matanya masih memandangnya khawatir, ia juga baru sadar, laki-laki itu masih menggenggam tangannya erat, seolah ingin memberikan kekuatan apa pun lewat genggamannya.

Kak Irham menyerahkan gelas berisi air saat Lea terlihat mulai merasa lebih baik. Lea menarik tangannya perlahan dari genggaman laki-laki itu, membuat Irham mengarahkan pandangannya ke arah tangan mereka, ia seperti juga baru menyadari bahwa sejak tadi tangannya menggenggam tangan Lea.

“Minum dulu.” Katanya kemudian ketika Lea sudah duduk dengan benar di tempat tidurnya, Lea mengambil gelas dari tangannya, menegak isinya hingga menyisakan setengah, aliran air di tenggorokannya membuatnya lebih baik, “Terima kasih.”

“Apa yang terjadi?” tanya Irham, masih dengan mata khawatirnya, Lea hanya tersenyum samar, “Aku hanya mimpi buruk, maaf mengagetkanmu.” Jawabnya,

Kening Irham berkerut, jawaban Lea tampaknya tidak membuatnya puas, “Apakah ini sering terjadi?”

Lea terdiam sebentar, sejak ibunya meninggal, hampir setiap malam Lea bermimpi buruk seperti ini, tapi belakangan sudah jarang terjadi, entah mengapa malam ini mimpi itu datang lagi. Apakah karena ibunya sempat dibahas saat makan malam tadi? Lea tidak tau, tapi Irham tidak perlu tau itu, ini masalahnya sendiri, “Tidak, mungkin karena di tempat baru.” Bohongnya,

Wajah Irham masih menunjukkan ketidakpuasan dari jawaban Lea, tapi sepertinya ia tidak akan membahasnya lebih jauh, karena setelahnya Irham mulai membantunya kembali ke posisi tidurnya. Tangannya sempat mengelap keringat dingin yang tadi menggenang di kening Lea, sentuhan itu membuatnya mundur tanpa sadar, tidak ada yang pernah melakukan itu padanya, apalagi seorang laki-laki, tapi ia tidak mau mengambil pusing masalah itu. Lea kembali mencoba untuk tidur, wajahnya kembali ia sembunyikan separuhnya di bawah selimut, ia menutup matanya tapi membukanya lagi saat menyadari laki-laki itu sepertinya tidak berencana pergi dari tempatnya saat ini.

“Pergilah tidur, Kak,” katanya,

Tapi bukannya beranjak dari tempatnya, laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di samping tempat tidur Lea. Ia terduduk di sana, membelakangi Lea, tapi tidak beranjak pergi, “Aku akan di sini sampai kau tidur.” Katanya kemudian,

“Tidak perlu, Kak.” Sergah Lea, “Tidurlah, aku baik-baik saja.” Tambahnya,

Lihat selengkapnya