Sinar hangat yang masuk dari celah jendela langsung mengarah ke wajah Lea, membuatnya menyipitkan mata, ia mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum akhirnya dapat bangun sepenuhnya. Kepalanya tertarik ke belakang saat menyadari seseorang masih duduk di samping tempat tidurnya, Kak Irham tidak beranjak dari tempatnya sejak semalam.
Ingatan tentang apa yang terjadi semalam membuat Lea tersenyum, ia sudah menguatkan hatinya sedemikian rupa untuk bertahan, memberikan batasan yang jelas, berkali-kali juga ia sekuat tenaga menolak untuk menyerah ketika laki-laki itu tanpa ampun mencoba menerobos pertahanannya. Tapi semalam berbeda, untuk pertama kalinya sejak ibunya tiada, rasa hangat itu menyentuh hati Lea yang sempat membeku. Seberapa pun ia menahannya, perasaan itu menyusup tanpa peringatan, tanpa bisa dicegah, tapi hatinya yang menghangat memberikan efek yang berbeda dibanding yang Lea bayangkan, jika hidupnya selama ini hanya untuk sekadar bernapas, kehangatan itu menyentaknya, menarik jalur hidupnya untuk merasa bahagia.
Tangannya terulur tanpa ia sadari, ujung jarinya menyentuh rambut Irham yang membuatnya tergelitik, tapi Lea dengan cepat menarik lagi tangannya, menyembunyikannya di bawah selimutnya, hanya senyum kecilnya yang tersisa, serta hatinya yang hari ini terasa penuh, “Terima kasih.” Bisiknya.
...
Saat Lea turun ke bawah, beberapa orang sibuk di dapur, itu Bibi Mera dan Bi Asih yang sedang bercengkrama riang sambil menggoreng pisang, sesekali mereka tertawa. Bibi Mera yang pertama kali menyadari kehadiran Lea, wajah wanita paruh baya itu tersenyum manis melihatnya, mengayunkan tangannya, meminta Lea mendekat, Lea mengambil langkahnya,
“Cobalah Lea, Ibu ingat Lea suka gorengan kan?” Katanya sambil menyuguhkan tahu dan tempe goreng panas yang sudah siap di atas piring. Lea tersenyum, bukan karena melihat gorengan di depannya, tapi mendengar Bibi Mera yang menyebut dirinya ‘Ibu’ membuat hatinya lagi-lagi menghangat. Lea tidak ingat sejak kapan Bibi Mera menyebut dirinya sendiri ‘Ibu’ kepada Lea, tapi baru hari ini, sebutan itu seakan terasa lebih nyata, seolah selama ini bahkan sebutan itu tak benar-benar Lea hiraukan, tapi hari ini, ia akhirnya percaya.
Lea mengambil salah satu tempe goreng, tapi matanya mencari sesuatu, “Kamu pasti nyari cabe kan, nak? Di depan rumah ada pohon cabe rawit, bisa Lea petikkan beberapa?” Tanyanya,
“Baiklah.” Jawabnya sambil mulai berdiri dan berjalan ke teras depan.
Udara segar segera mengisi paru-parunya, Lea menutup matanya, membiarkan udara segar itu masuk dan mengalir ke setiap celahnya. Ia tidak menyadarinya, tapi rumah itu terasa berbeda dengan saat ia datang kemarin, masih dengan rasa asri yang sama, masih dengan taman yang sama indahnya, Lea bahkan tidak tau di mana bedanya, tapi jauh di dalam hatinya, ia merasakan perbedaan itu, seolah sebelumnya ia tidak memperhatikan dengan benar, dan baru menyadari detail-detail kecil darinya.
Seolah dulu udara hanya sampai ke hidungnya, namun kini mengisi paru-parunya dengan penuh. Rasanya menyenangkan.