"Lah, malah tidur?" Tati geleng-geleng kepala melihat Aditya malah ikut tidur.
"Hujan sudah berhenti lama, dia malah mimpi!" Tati masih terlihat memakai mukena.
Sehabis mandi, Tati terus ibadah. Dia belum Dzuhur, masih ada waktu sebelum Ashar.
Tati mengira Aditya sudah mencari tahu dari tetangga baru mereka, siapa dan di mana Roy tinggal. Eh, tahunya malah ikut tertidur.
"Adit, bangun kamu!" Tati menyentuh tubuh Aditya.
Aditya pun terjaga.
"Ada apa Bu? Aku ngantuk berat, terasa capai pindahan tadi pagi dan menata barang. Untung barang yang kita punya tak banyak, cuma akuarium aja yang bikin capai ngurusnya," ucap Aditya cepat.
"Kamu lihat itu siapa?" Tati menunjuk Roy.
"Ya, ampun! Maaf, Bu .... Aku ketiduran dan jadi lupa. Hujan sudah berhenti kan Bu?" Aditya meloncat bangun dari duduknya.
"Sudah dari tadi. Memang tak dengar genteng udah nggak berisik?" Tita menunjuk ke atas.
"Wah, aku keluar dulu ya Bu, mau cari tahu ke tetangga, rumah Roy di mana." Aditya pun melangkah ke arah pintu.
"Cuci muka dulu, baru pergi!" tegur Tati.
Aditya berbalik badan dengan cepat, dia mengganti arah langkahnya. Ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
***
"Jadi apa keputusanmu, Runi? Lapor polisi atau terus cari Roy?" tanya Rudi dengan suara keras.
Suasana bising mulai tercipta, akibat banyak orang yang berbeda pendapat dan saling memberi usul satu sama lainnya. Membuat Runi yang paling merasa kehilangan Roy pun bingung.
"Roy, apa dia anak yang maaf punya kebutuhan khusus?" teriak Aditya dari luar rumah.
Aditya sudah keluar rumah, tadinya dia bingung mau tanya tetangga yang mana tentang Roy. Tapi dia melihat ada kerumunan banyak orang di salah satu rumah, berbeda sekitar lima rumah dari rumahnya, dari tempatnya berdiri sekarang, maka tempat orang ramai berkumpul berada di utara.
Dengan yakin Aditya menuju ke rumah neneknya Roy.
Pas baru sampai dan tepat berada di bagian pagar luar, Aditya mendengar nama Roy disebut Rudi.
Spontan Aditya pun berteriak.
Semua orang yang berkumpul di rumah neneknya Roy, serentak menengok.
Aditya pun merasa dirinya bak seorang pesakitan. Sebab dia merasa semua mata yang memandangnya saat ini seakan bicara, 'Orang asing dari mana ini, kok kenal Roy?'.
"Oh, kamu anak Ibu Tati ya, yang baru pindah tadi pagi?" tanya Ibu RT.
"Iya, Bu." Aditya mengangguk hormat.